Contoh Kalimat Subject-Verb Agreement, Subject Separated From The Verb, dan Collective Nouns

Contoh kalimat Subject – Verb Agreement

  1. Every student in the class knows the answer.

Keterangan :

Every student = subject (singular)

Knows = verb (singular)

  1. All students in the class know the answer.

Keterangan :

All students = subject (plural)

Class = verb (plural)

 

Contoh kalimat subject separated from the verb

  1. The boys and the girls are reading in the library.

Keterangan :

The boys and the girls = subject (plural)

Are reading = plural

  1. Neither Hendi nor Ella reads the novel.

Keterangan :

Neither hendi nor ella = singular

Reads = singular

 

Contoh kalimat Collective Nouns

  1. I bought a bouquet of flowers for my girlfriend four days ago.

Keterangan : a bouquet of flowers = collective nouns

  1. The committee is meeting in that room.

Keterangan : the committee = collective nouns

  1. I got a pair of shoes from my sister.

Keterangan : a pair of shoes = collective nouns

  1. I see a herd of buffalo is crossing the road.

Keterangan : a herd of buffalo = collective nouns

  1. The Indonesian army was the biggest one.

Keterangan : army = collective nouns

Oleh hendikam

Kalimat Verb Phrase, Tenses, Compliment and Modifier

Contoh kalimat (Subject – Verb – Compliment – Modifier)

  1. I borrowed Phillip Kotler’s book in the library two days ago.

Keterangan :   I = Subject

borrowed = Verb2

Phillip Kotler’s book = Object

in the library = preposition of place (complement)

two days ago = Modifier (modify adverb of time)

  1. Deadpool was a great movie.

Keterangan :   Deadpool = Subject

was = To be

a great = Modifier (modify noun)

movie = Noun

 

Contoh kalimat Verb Phrase

  1. She will never come here again.

Keterangan :   She = Subject

will, come = Verb Phrase

never = Adverb

  1. He has worked at the office since June.

Keterangan :   He = Subject

Has worked = Verb Phrase

 

Contoh kalimat Tenses (Past, Present and Future)

Past Tense

  1. I posted my assignment two minutes ago.

Keterangan :   I = Subject

posted = Verb2

my assignment = Object

two minutes ago = Adverb of time

  1. Last week i read Phillip Kotler’s book in the library.

Keterangan :   Last week = Adverb of time

i = Subject

read = Verb2

Phillip Kotler’s book = Object

in the library = Preposition of place

Present Tense

Habitual ction

  1. He drives his car fast everyday.

Keterangan :   He = Subject

drives = Verb1

his car = Object

fast = Adjective

everyday = Adverb of time

General truth

  1. The earth revolves around the sun.

Keterangan :   The earth = Subject

revolves = Verb

the sun = Object

Future Tense

  1. I am going to meet the lecturer tomorrow morning.

Keterangan :   I = Subject

am = To be

going to = Be

meet = Verb

the lecturer = Object

tomorrow morning = Adverb of time

  1. The lecturer will approve your research title.

Keterangan :   The lecturer = Subject

approve = Verb

your research title = Object

Oleh hendikam

Makalah Proses Penyusunan Karya Ilmiah

MAKALAH BAHASA INDONESIA

PROSES PENYUSUNAN KARYA ILMIAH

unnamed

Disusun oleh:

Hendikam Dwi W

13212383

3EA04

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN MANAJEMEN

UNIVERSITAS GUNADARMA

DEPOK

2015

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH

Karya ilmiah merupakan hasil tulisan yang menuruti suatu aturan tertentu. Aturan tersebut  biasanya merupakan suatu persyaratan tata tulis yang telah dibakukan oleh masyarakat akademik. Secara umum, proses penulisan karya ilmiah dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu : tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap perbaikan.

Sebagai hasil penelitian atau kegiatan ilmiah setiap karangan ilmiah mengandung komponen adanya masalah yang menjadi topik karangan ilmiah itu. Adanya tujuan penelitian, metode penelitian, teori yang dianut, objek penelitian, instrumen yang digunakan, dan adanya hasil penelitian yang diperoleh. Setelah kaidah ditemukan dan dirumuskan, kegiatan penelitian harus diwujudkan dalam bentuk laporan. Hal ini dimaksudkan karena sasaran akhir penelitian adalah mengkomunikasikan hasil penelitian pada khalayak terkait. Oleh karena itu,  menulis laporan merupakan tahap akhir yang penting dalam penelitian, karena menulis laporan merupakan proses komunikasi yang membutuhkan adanya pengertian yang sama antara penulis dan  pembaca.

Jadi, dapat disimpulkan belajar menulis karya ilmiah itu sangat penting. Supaya di setiap proses dan tahapannya sesuai dengan aturan yang berlaku. Selain itu, pentingnya belajar menulis karya ilmiah juga dapat memperjelas sasaran atau tujuan dilaksanakannya penelitian sehingga dalam pembahasannya dapat disampaikan secara tepat dan mudah dipahami oleh pembaca. Sehingga kami membuat makalah penulisan karya ilmiah ini sebagai bahan pembelajaran.

RUMUSAN MASALAH

Bagaimana penyusunan karya ilmiah yang baik dan benar?

Bagaimana proses mengarang ilmiah?

Bagaimana penyajian karya ilmiah?

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memberi penjelasan tentang penyusunan karya ilmiah yang baik dan benar, serta mengetahui proses mengarang ilmiah dan mengetahui penyajian karya ilmiah.

Sedangkan manfaat yang dapat diambil adalah dapat membuat karya ilmiah dengan baik dan benar sesuai kaidah dengan kaidah yang telah ditentukan.

BAB II

PEMBAHASAN

PENGERTIAN KARYA ILMIAH

Karya ilmiah (bahasa Inggris: scientific paper) adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Skripsi umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu, makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.

SISTEMATIKA PENULISAN KARYA ILMIAH

1. Bagian Pembuka

Cover

Halaman judul

Halaman pengesahan

Abstraksi

Kata pengantar

Daftar isi

Ringkasan isi

2. Bagian Isi

Bab I Pendahuluan

Latar belakang masalah

Perumusan masalah

Pembahasan/pembatasan masalah

Tujuan penelitian

Manfaat penelitian

Bab II Kajian teori atau tinjauan kepustakaan

Pembahasan teori

Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan

Pengajuan hipotesis

Bab III Metodologi penelitian

Waktu dan tempat penelitian

Metode dan rancangan penelitian

Populasi dan sampel

Instrumen penelitian

Pengumpulan data dan analisis data

Bab IV Hasil Penelitian

Jabaran varibel penelitian

Hasil penelitian

Bab V Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Saran

4. Bagian penunjang

Daftar pustaka

Lampiran- lampiran antara lain instrumen penelitian

Daftar Tabel

PROSES MENGARANG ILMIAH

Mengarang adalah suatu proses kegiatan pikiran manusia yang hendak mengungkapkan kandungan jiwanya kepada orang lain atau kepada diri sendiri dalam bentuk tulisan. Mengarang juga dapat melatih orang untuk mengeluarkan pikirannya dengan baik sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Kegiatan mengarang itu merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan dengan sadar, berarah, dan mempunyai mekanisme, serta persyaratan-persyaratan lain yang perlu diperhatikan agar karangan berhasil baik. Mekanisme karangan meliputi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada tahap perencanaan karangan dan kegiatan pada tahap penulisan karangan.

Tahap perencanaan karangan merupakan tahap awal atau tahap persiapan dan rangkaian proses penulisan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi, antara lain :

Memilih dan membatasi bahan pembicaraan (topik),

Merumuskan judul karangan yang baik.

PENYAJIAN KARYA ILMIAH

Secara garis besar, Struktur Penyajian Karya Ilmiah terdiri atas bagian; Pendahuluan, Pokok pembahasan, dan Penutup. Dengan demikian, sebuah karya ilmiah akan selalu mulai dengan suatu  pengantar yang menuju ke pokok pembahasan, dan diakhiri dengan penutup yang dapat berupa simpulan dan rekomendasi.

Bagian Pengantar. Bagian pengantar atau sering disebut pendahuluan dapat berupa latar belakang yang menggambarkan penting nya topik yang akan dibahas, tujuan penulisan, dan mungkin juga ruang lingkup penulisan. Luas cakupan bagian pembuka atau pendahuluan ini bervariasi sesuai dengan jenis karya ilmiah yang ditulis. Ada bagian pendahuluan yang hanya terdiri dari satu atau dua paragraf, ada pula yang terdiri dari satu bab yang dibagi lagi menjadi subtopik.

Bagian Inti. Bagian inti atau pokok pembahasan sebuah karya ilmiah merupakan bagian yang paling besar dalam sebuah karya ilmiah. Tergantung dari luasnya masalah yang di bahas atau dari jenis karya ilmiah yang ditulis, bagian pembahasan ini dapat sangat panjang dan dapat pula sangat singkat. Skripsi, tesis, dan disertasi mungkin mencantumkan beberapa bab yang dapat dikelompokkan sebagai bagian inti, sedangkan artikel ilmiah mungkin mencamtumkan beberapa subtopik. Namun yang jelas bagian inti atau pokok pembahasan ini memberi kesempatan kepada penulis untuk memaparkan proses kejadian /penelitian yang di lakukan atau hasil kajian yang akan diungkapkan.

Bagian penutup. Bagian penutup merupakan bagian akhir dari sebuah tulisan. Seperti halnya pada bagian pendahuluan dan bagian inti, bagian penutup sebuah karya ilmiah juga mempunyai struktur kajian yang khas, yang berbeda dari bagian penutup jenis tulisan lain. Sebuah karya ilmiah biasanya ditutup dengan simpulan dan harapan atau rekomendasi. Semua ini merupakan simpulan kajian peserta terhadap topik atau masalah yang disajikannya, serta tindak lanjut yang diharapkan terjadi berdasarkan simpulan tersebut. Berita atau cerita pendek tidak selalu menutup berita atau ceritanya dengan simpulan dan rekomendasi.Bottom of For

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Secara keseluruhan cara penulisan karya ilmiah yang baik sudah ditentukan, yaitu sesuai dengan tata bahasa (EYD) dan tata tulis yang disepakati oleh masyarakat akademik. Adapun yang masuk kedalam penelitian meliputi masalah penelitian, tujuan, metode, kajian teori, objek data variabel dan hasil penelitian. Kemudian cara – cara penulisan karya ilmiah yang baik adalah:

Objektif

Pola berfikir deduktif – induktif

Sistematika Tata cara penulisan karya ilmiah mencakup : penulisan kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka.

Adapun bentuk – bentuk karya ilmiah meliputi :

Karya tulis

Makalah

Skripsi

Thesis

Disertasi

Laporan hasil peneliti

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul, 2011, Ragam Bahasa Ilmiah, Jakarta: Rineka Cipta.

Keraf, Gorys, 2004, Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa, Ende: Nusa Indah, Cetakan XIII.

Rumaningsih, Endang, 2011, Mahir Berbahasa Indonesia, Semarang: Ra-SAIL (Ranah Ilmu-ilmu Sosial Agama dan Interdisipliner), Cetakan III.

Wasito, Hermawan, 1997, Pengantar Metodologi Penelitian: Buku Panduan Mahasiswa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Winarto, Yunita T., Totok Suhardiyanto, dan Ezra M. Choesin (eds.), 2004, Karya Tulis Ilmu Sosial: Menyiapkan, Menulis, dan Mencermatinya, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, Edisi 1.

HYPERLINK “http://czifa24.blogspot.com/2012/03/makalah-b-indonesia-tentang-penulisan.html” http://czifa24.blogspot.com/2012/03/makalah-b-indonesia-tentang-penulisan.html (Diakses pada 21/05/2015 15:11)

HYPERLINK “http://estetikainspire.blogspot.ae/2011/11/perencanaan-karya-tulis-ilmiah.html” http://estetikainspire.blogspot.ae/2011/11/perencanaan-karya-tulis-ilmiah.html (Diakses pada 21/05/2015 15:12)

HYPERLINK “http://herizanyp.blogspot.com/2012/12/makalah-penulisan-ilmiah.html” http://herizanyp.blogspot.com/2012/12/makalah-penulisan-ilmiah.html (Diakses pada 21/05/2015 15:15)

HYPERLINK “http://sapasayaa.blogspot.ae/2012/03/struktur-struktur-penyajian-karya.html” http://sapasayaa.blogspot.ae/2012/03/struktur-struktur-penyajian-karya.html (Diakses pada 21/05/2015 15:25)

Oleh hendikam

Bahasa Gaul Kaskuser

NAMA : HENDIKAM DWI W

NPM    : 13212383

KELAS  : 3EA04

TEMA  : Fenomena Penggunaan Bahasa Indonesia

JUDUL  : Bahasa Gaul Kaskuser

Bahasa dikenal sebagai alat utama dalam berkomunikasi antar- sesama bertujuan agar pesannya dapat tersampaikan dengan baik. Negara kita sendiri mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan nasional yakni bahasa persatuan antar masyarakatnya yang majemuk. Kecenderungan masyarakat terutama anak-anak muda atau pelajar menggunakan bahasa gaul yang sengaja dibuat sendiri agar gampang diingat dan disebut.

Bahasa gaul merupakan bahasa anak-anak remaja gaul yang biasa digunakan sebagai bahasa sandi. Bahasa ini mulai dikenal dan digunakan sekitar tahun 1970 yang awalnya dikenal sebagai bahasanya anak jalanan / bahasa preman karena biasanya digunakan oleh para Prokem (sebutan untuk para preman) sebagai kata sandi yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka sendiri. Tetapi bahasa prokem tersebut semakin berkembang dan mulai dimengerti oleh kalangan diluar kelompok preman dan anak jalanan karena seringnya mereka menggunakan bahasa sandi tersebut di tempat-tempat umum.

Bahasa gaul atau bahasa prokem terus berkembang dari masa ke masa. Ada sebagian kata yang diperkenalkan sejak tahun 1970an dan hingga kini masih sering dipakai. Namun tidak sedikit kata-kata itu sudah tidak dikenal lagi dan berganti dengan istilah lain yang lebih unik dan aneh.

Kata-kata tersebut bisa berasal dari bahasa daerah yang dipelesetkan artinya selain itu terkadang ada kata-kata tertentu diganti atau diubah redaksi katanya agar terdengar unik dan lucu. Bahasa gaul saat ini memang telah menjadi fenomena dikalangan para generasi muda, bukan hanya dalam kelompok remaja kota tetapi remaja dipelosok pun telah mengenal bahasa gaul ini seakan sebuah tren masa kini yang tidak bisa dilewatkan.

Bahasa gaul yang diucapkan sehari-hari ternyata banyak juga yang berasal dari sebuah perkumpulan forum online yang biasa disebut dengan KASKUS, di dalam forum ini ada bahasa-bahasa yang sudah dibuat sedemikian agar para pengguna forum tersebut lebih akrab. Contohnya saja “Saya” didalam forum ini biasa disebut dengan “Ane”, jika ingin menyebutkan “Kamu” maka diganti dengan “Ente”. Sedangkan kata “Cendol” mengartikan bahwa tanda untuk reputasi yang baik. ada istilah yang diplesetkan juga seperti Download menjadi “Donlot” atau “DL”. Ada juga yang disingkat seperti “Gajebo” singkatan dari “Ga Jelas Bo”.

Meskipun banyak sekali bahasa gaul yang banyak terjadi dikalangan remaja zaman sekarang tetapi mereka tetap harus belajar bahasa indonesia yang baik agar tidak terbawa hingga masuk ke dunia kerja yang menuntut harus menggunakan bahasa yang formal. Selain tetap belajar, para remaja juga harus bisa memperhatikan lingkungannya agar tidak mudah terpengaruh yang buruk.

Referensi :

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/06/02/32617/fenomena-bahasa-gaul-di-kalangan-remaja/

http://marghy.mywapblog.com/kamus-besar-bahasa-kaskus-info.xhtml

Oleh hendikam

Strategi Pemasaran Sepeda Motor Honda

NAMA : HENDIKAM DWI W

NPM    : 13212383

KELAS  : 3EA04

Topik   : Manajemen Pemasaran

Strategi Pemasaran Sepeda Motor Honda

Salah satu alat transportasi yang banyak di jumpai di sekitar kita adalah jenis sepeda motor. Selain geografis faktor harga juga mempengaruhi perkembangan produksi sepeda motor. Setidaknya pada tahun – tahun terakhir ini harga relatif lebih murah dan terjangkau. Apalagi kalau di kota kota besar yang rawan kemacetan, maka alternatif yang paling memungkinkan adalah dengan menggunakan sepeda motor.

Kita ketahui saat ini banyak merk sepeda motor yang ada di Indonesia misalnya Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, TVS, Happy dll. Dengan banyaknya ragam dan keunggulan masing – masing kendaraan, semakin memudahkan masyarakat menjatuhkan pilihan pembelian. Tetapi dari pengamatan saya hanya merk Honda, Yamaha dan Suzuki yang secara fisual terlihat bersaing ketat. Dengan kedewasaan konsumen, maka selain harga maka pertimbangan gaya, keiritan dan kualitas nampaknya saat ini menjadi isu yang populer.

Sebuah perusahaan atau organisasi pasti melakukan suatu strategi pemasaran sebagai salah satu cara untuk membantu terjualnya suatu produk maupun jasa. Salah satu perusahaan di Indonesia yang menggunakan strategi pemasaran yaitu PT. Astra Honda Motor (AHM).

Astra Honda Motor (AHM) merupakan sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi sepeda motor merek HONDA. Dengan melakukan pengembangan kerja sama antara Honda Motor Company Limited Jepang dan PT Astra International Tbk, Indonesia.Sebuah kolaborasi yang kuat antara Sistem Manajemen Astra dan teknologi tinggi HONDA yang bisa membuat AHM menjadi perusahaan terkemuka di pasar sepeda motor di Indonesia. Sekarang PT. Astra Honda Motor menjadi perusahaan terkemuka dalam industri sepeda motor di Indonesia.

Saat ini PT Astra Honda Motor memiliki 3 fasilitas pabrik perakitan, pabrik pertama berlokasi Sunter, Jakarta Utara yang juga berfungsi sebagai kantor pusat. Pabrik ke dua berlokasi di Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, serta pabrik ke 3 yang sekaligus pabrik paling mutakhir berlokasi di kawasan MM 2100 Cikarang Barat, Bekasi. Pabrik ke 3 ini merupakan fasilitas pabrik perakitan terbaru yang mulai beroperasi sejak tahun 2005.

Keunggulan teknologi Honda Motor diakui di seluruh dunia dan telah dibuktikan dalam berbagai kesempatan, baik di jalan raya maupun di lintasan balap. Honda pun mengembangkan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan pelanggan yaitu mesin “bandel” dan irit bahan bakar, sehingga menjadikannya sebagai pelopor kendaraan roda dua yang ekonomis.

Selain keunggulan dan kehandalan sepeda motor Honda, strategi pemasarannya pun juga menjadi kunci utama dalam mengambil pangsa pasar di Indonesia. Honda yang di pelopori oleh pendirinya Fujisawa ini menjalankan strategi pemasaran sepeda motor Honda dengan beberapa metode atau cara. Beberapa cara untuk memasarkan produk sepeda motor Honda ini diantaranya :

  • Brand
    Dengan mempromosikan brandnya, Honda mampu menjadikan merek tersebut selalu di hati konsumennya. Bahkan dalam beberapa penemuan baru dengan inovasi terbaru pula, setiap peluncuran Honda selalu dinanti oleh banyak orang. Brand yang di pilih sangat mudah di kenal dan di ingat oleh konsumennya. Dengan berbagai merek yang dikeluarkan seperti New Honda Mega-pro, Varion, dan beberapa produk Honda lainnya, maka pemberian nama ini sangat mudah di kenal dan di ingat oleh masyarakat. Pemilihan brand Honda dalam setiap inovasi baru selalu dihubungkan dengan produk yang akan di rancang. Hal ini agar brand dan produk tersebut senada. Selain itu brand yang diciptakan oleh sepeda motor Honda selalu mendapat sambutan baik dari konsumen. Brand dari sepeda motor Honda selalu fleksibel atau terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi.
  • Promosi
    Honda mengadakan berbagai promosi baik melalui media internet, media cetak, promosi langsung maupun melalui siaran televisi. Semua media promosi telah dilakukan untuk mengembangkan pemasaran yang lebih baik. Sepeda motor Honda dalam promosinya juga bekerjasama dengan sederet artis papan atas maupun beberapa orang terkemuka di Indonesia untuk menarik perhatian konsumen lebih banyak. Beberapa artis yang mendukung promosi Honda di antaranya Agnes Monika yang mensponsori Honda Vario.Dengan merangkul artis ternama tersebut diharapkan promosi sepeda motor dengan merek Vario tersebut bisa melejit. Dan apa yang menjadi harapan Honda menjadi kenyataan karena banyak masyarakat yang antusias terhadap merek Vario ini. Strategi pemasaran sepeda motor Honda juga merangkul bintang olahraga seperti yang dilakukan oleh Yamaha. Saat ini Honda juga mensponsori beberapa acara yang diselenggarakan seperti perlombaan balap motor maupun olahraga lainnya.
  • Mendirikan Club
    Sama seperti Yamaha, Honda juga mendirikan club bagi anak muda maupun dewasa dengan tema merek Honda masing-masing. Dengan mendirikan club atau perkumpulan pengguna Honda ini diharapkan akan mudah berkomunikasi dengan konsumen. Jika komunikasi berjalan dengan lancar maka promosi mudah dijalankan.
  • Hadiah
    Salah satu cara berpromosi Honda lainnya adalah dengan memberikan hadiah kepada konsumennya berupa helm, maupun hadiah lainnya agar konsumen semakin tertarik dengan produk Honda.
  • Donatur beberapa acara
    Sebagai bentuk kepedulian Honda, Honda juga menjadi donatur beberapa acara tertentu dan ini merupakan cara promosi Honda yang dasyat untuk menjalin hubungan baik dengan konsumennya. Semakin banyak acara yang di sponsori semakin banyak pula konsumen yang mengenal Honda.

Referensi         :

http://ahlimanajemenpemasaran.com/2013/08/strategi-pemasaran-sepeda-motor-honda/

http://lovelaguku07.blogspot.com/2014/03/analisis-strategi-pemasaran-pt-astra.html

http://arisnurdin.blogspot.com/2013/05/ulasanqu-perencanaan-dan-strategi.html

Oleh hendikam

Kata Pengantar

NAMA  : Hendikam Dwi W

KELAS  : 3EA04

NPM    : 13212383

KATA PENGANTAR

Rahmat dan keanugrahan dari Tuhan Yang Mahaesa menjadi petunjuk kepada penulis untuk segera menyelesaikan penelitian ilmiah ini. Oleh karena itu penulis ucapkan syukur yang tak terhingga karena dapat menyelesaikan penulisan ilmiah ini yang berjudul “Tingkat Pelayanan Teller dengan Metode Antrian pada Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen”. Penulisan Ilmiah ini diajukan kepada Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma sebagai syarat jenjang setara sarjana muda, strata satu (S1) yang diwajibkan bagi seluruh mahasiswa Universitas Gunadarma.

Dalam penulisan ilmiah ini, banyak pihak yang telah membantu hingga penulisan ilmiah ini dapat penulis tuntaskan. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada

  1. Dr. E. S. Margianti, SE., MM., selaku Rektor Universitas Gunadarma.
  2. Toto Sugiharto, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
  3. Iman Murtono Soenhadji, Ph.D., selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
  4. Fettiana Giana Devi, S.Kom, MMSI., selaku Koordinator Sidang Penulisan Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
  5. Irwandaru Dananjaya, SE., MM., selaku Dosen Pembimbing.
  6. Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian selama bulan Januari 2015.
  7. Bapak, Ibu serta kakak dan adikku tercinta, yang telah memberikan dukungan baik moril dan materil. Semoga mereka senantiasa mendapatkan pahala yang berlipat ganda dan dalam lindungan Allah SWT.
  8. Leila Diniya tercinta dan tersayang atas semua semangat yang telah diberikan. Semoga cepat lulus dengan hasil yang memuaskan dan menjadi guru bahasa inggris.
  9. Teman-teman kelas 3EA04 angkatan 2012 yang telah memberikan dorongan, semangat kepada penulis untuk segera menyelesaikan penulisan ilmiah ini.
  10. Teman-teman satu Jurusan Manajemen terutama ketika tingkat 1 kelas 1EA01 yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memberikan saran dalam penulisan ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ilmiah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran serta kritik untuk peningkatan mutu penulisan ilmiah ini sangat diharapkan. Semoga penulisan ilmiah ini dapat memberikan manfaat sesuai fungsi dan tujuannya.

Oleh hendikam

Jurnal Manajemen

Nama  : Hendikam Dwi W

NPM    : 13212383

Kelas   : 3EA04

TINGKAT PELAYANAN TELLER DENGAN METODE ANTRIAN PADA BANK MANDIRI KCP JAKARTA WISMA INDOSEMEN

 

Hendikam Dwi Wariyantoni

Fakultas Ekonomi Program Studi Manajemen Strata Satu (S1) – Univesitas Gundarma

ABSTRAK

Dalam Penulisan Ilmiah ini, penulis membahas tentang bagaimana tingkat pelayanan pada Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen dengan menggunakan metode Multi Channel Single Phase dan juga menentukan jumlah loket optimal yang harus di operasikan. Penulis memperoleh data jumlah kedatangan nasabah dari tanggal 5 Januari 2015 – 30 Januari 2015 sejak pukul 08.00 – 15.00. Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen mempunyai 3 loket untuk melayani para nasabahnya yang dioperasikan setiap hari senin – jum’at. Dari hasil perhitungan, maka tingkat pelayanan dan tingkat kegunaan yang sudah optimal hanya pada minggu ke-1, ke-2, ke-3. Sedangkan pada minggu ke-4 meskipun tingkat penggunaan pelayanannya sudah 95,5%, namun masih banyak nasabah yang mengantri panjang. Sehingga Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen harus menambahkan satu loket lagi pada minggu ke-4, agar antrian yang panjang dapat terurai dan mempercepat pelayanan dari teller.

Kata Kunci : Tingkat Pelayanan, Metode Antrian, Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen.

 

 

ABSTRACT

In this research, the writer discusses about how the level of service at the Mandiri Bank KCP Indosemen Wisma using Multi-Channel Single Phase method and also to determine the optimal number of counters that should be operated. The writer obtained the data on the number of customer started from January 5, 2015 until January 30, 2015 at 08.00 a.m until 03.00 p.m. Mandiri Bank KCP Wisma Indosemen has 3 counters to serve customers which operated from Monday to Friday. From the calculation results, the level of service and the level of usability that is already optimal only in the first week, second week and third week. In the fourth week, the level of service usage is already 95.5%, but a lot of costumers still in the long queue. So, Mandiri Bank KCP Wisma Indosemen should add one more counter in the fourth week to solve that long queue and to accelerate the teller service.

Keywords : Level of Service, Queue Method, Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, dunia perbankan sudah menjadi kebutuhan yang tidak biasa lagi. Dimana kebanyakan orang membutuhkan bank sebagai lembaga keuangan untuk menyimpan uang, barang-barang berharga yang dimilikinya, dan untuk bertransaksi. Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.792 Tahun 1990 tentang “Lembaga Keuangan”, lembaga keuangan diberi batasan sebagai semua badan yang kegiatannya di bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan.

Di Indonesia lembaga keuangan seperti bank bisa dibagi dalam tiga jenis jika dilihat dari kepemilikannya, yaitu bank pemerintah, bank swasta dan bank asing. Dimana bank pemerintah merupakan lembaga keuangan yang pengelolaannya dimiliki oleh negara, sedangkan bank swasta sebagian atau seluruh sahamnya dikuasai oleh pihak-pihak swasta. Bank asing sendiri ialah lembaga keuangan yang seluruh kepemilikannya dikuasai oleh pihak asing dan juga merupakan cabang dari bank yang sudah ada diluar Indonesia.

Diluar dari jumlah bank yang sudah banyak di Indonesia, mereka juga memiliki jumlah cabang bank yang tidak sedikit dan tersebar mulai dari kota-kota besar hingga ke daerah yang terpencil. Keberadaan bank serta cabang-cabangnya yang banyak tersebut, maka setiap bank yang ada harus bisa menentukan strategi pemasaran yang tepat untuk tetap bertahan ditengah kompetisi dunia perbankan saat ini. Semua itu tidak lepas dari sebagian fungsinya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, baik perorangan maupun perusahaan.

Saat ini, Bank Mandiri merupakan salah satu bank pemerintah yang terbaik di Indonesia, ini ditandai dengan banyaknya penghargaan yang diraih. Penghargaan yang terakhir diraih Bank Mandiri yaitu kinerja keuangan sangat bagus 2009-2013 versi majalah Infobank dan Best Excellent Services dari tahun 2008-2013 yang menjadikan Bank Mandiri sebagai bank pertama di Indonesia yang meraih penghargaan Best Excellent Service enam kali berturut-turut.

Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia.

Model antrian merupakan peralatan penting dan sangat menguntungkan untuk pihak bank dan nasabah dalam antrian. Untuk menjaga kontinuitas dalam menjalin kerjasama antara bank dengan nasabah diperlukan sistem antrian yang baik dan terpadu sehingga akan membuat nasabah pengguna jasa tabungan dengan pihak bank mempunyai hubungan yang baik sehingga akan tercipta stabilitas pelayanan jasa tabungan.

Teller sebagai salah satu fasilitas pelayanan yang ada di Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen sangat berpengaruh terhadap kepuasan nasabah. Kecepatan pelayanan dan banyaknya teller yang tersedia juga sangat berpengaruh. Jika antrian sering terjadi dalam transaksi maka nasabah akan bosan dan merasa waktunya terbuang dengan percuma hanya untuk menunggu. Kecekatan dan kecermatan dari seorang teller diperlukan sekali dan menjadi faktor utama dalam melayani nasabah.

Perumusan Masalah

  1. Berapa jumlah teller dan loket yang optimal untuk memberikan pelayanan pada nasabah Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen ?
  2. Bagaimana tingkat kegunaan pelayanan nasabah Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah teller dan loket yang optimal untuk memberikan pelayanan pada nasabah Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen. Dan juga untuk mengetahui tingkat kegunaan pelayanan teller Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen.

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang memadai, maka diberikan batasan pada perhitungan jumlah loket yang optimal untuk diterapkan pada Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen dengan menggunakan Metode Multi Channel Single Phase dengan data pada bulan Januari 2015.

TINJAUAN TEORETIS

Philip Kotler (2002) mengemukakan pengertian jasa adalah setiap kegiatan atau manfaat yang dapat diberikan oleh satu pihak kepada pihak lainnya yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak pula berakibat pemilikan sesuatu dan produksinya dapat atau tidak dapat dikaitkan dengan suatu produk fisik.

Menurut Supranto (1997) jasa merupakan suatu kinerja penampilan, tidak berwujud dan cepat hilang, lebih dapat dirasakan daripada dimiliki, serta pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi jasa tersebut. Kondisi dan cepat lambatnya pertumbuhan jasa akan sangat tergantung pada penilaian pelanggan terhadap kinerja (penampilan) yang ditawarkan oleh pihak produsen.

Kini semakin disadari bahwa jasa merupakan aspek vital bagi lembaga pelayanan publik baik sektor swasta maupun instansi pemerintah. Dengan kata lain jasa merupakan unsur yang sangat berpengaruh dalam usaha jasa karena usaha ini berhubungan langsung dengan konsumen dalam hal ini nasabah. Jasa perbankan sangat menunjang prinsip bahwa nasabah adalah yang utama, sehingga para penyedia jasa di Bank Mandiri dapat memperbaiki sistem pelayanannya untuk meningkatkan kepuasan nasabahnya.

Menurut Supranto (1988) tingkat pelayanan bisa konstan/ajeg dari waktu ke waktu sama, mengikuti distribusi exponential atau mempunyai bentuk yang lain. Waktu pelayanan (service time) ialah lamanya waktu sejak pelayanan diberikan kepada seorang customer (penerima pelayanan) sampai selesai, pada fasilitas pelayanan.

Model antrian harus secara khusus menyebutkan distribusi probabilita waktu pelayanan bagi setiap server (pemberi pelayanan), kalau mungkin untuk berbagai customer, walaupun dalam prakteknya dianggap setiap server mempunyai probabilita yang sama.

Rata-rata pelayanan (mean server rate) diberi simbol u merupakan banyaknya customer atau langganan yang dapat dilayani dalam satuan (unit) waktu, sedangkan rata-rata waktu pelayanan (average service time) ialah rata-rata waktu yang dipergunakan untuk melayani per server atau langganan, diberi simbol 1/u unit (satuan).

Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan pelayanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain. Sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang.

Teori tentang antrian ditemukan dan dikembangkan oleh A.K. Erlang, seorang insinyur dari Denmark yang bekerja pada perusahaan telepon di Kopenhagen pada tahun 1910. Dia melakukan eksperimen tentang fluktuasi permintaan fasilitas telepon yang berhubungan dengan automatic dialing equipment , yaitu peralatan penyambungan telepon secara otomatis.

Dalam persoalan-persoalan yang dapat diselesaikan dengan teori antrian adalah meliputi bagaimana perusahaan dapat menentukan waktu dan fasilitas yang sebaik-baiknya agar dapat melayani konsumen atau pelanggan ataupun nasabah dengan sangat efisien. Didalam hal ini tentu saja diperhitungkan antara biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk menambah fasilitas pelayanan baru dengan kerugian-kerugian konsumen karena harus menunggu apabila tidak diadakan suatu penambahan fasilitas pelayanan yang baru tersebut.

Menurut Pangestu Subagyo (1999), terdapat 4 model struktur antrian dasar yang umum terjadi dalam seluruh sistem antrian, yaitu :

  1. Single Channel – Single Phase

Sistem ini adalah yang paling sederhana. Single Channel berarti bahwa hanya ada satu jalur untuk memasuki sistem pelayanan. Single Phase menunjukkan bahwa hanya ada satu station pelayanan atau sekumpulan tunggal operasi yang dilaksanakan, stelah menerima pelayanan individu-individu keluar dari sistem.

Contoh untuk model struktur ini adalah seorang tukang cukur, pembeli tiket kereta api antar kota kecil yang dilayani oleh satu loket, seorang pelayan toko, dan sebagainya.

  1. Single Channel – Multi Phase

Istilah Multi Phase menunjukkan ada dua atau lebih pelayanan yang dilaksanakan secara berurutan (dalam phase-phase). Sebagai contoh, lini produksi massa, pencucian mobil, tukang cat mobil, dan sebagainya.

  1. Multi Channel – Single Phase

Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi (ada) kapan saja dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal. Sebagai contoh adalah pembelian tiket yang dilayani oleh lebih dari satu loket pelayanan potong rambut oleh beberapa tukang potong, dan sebagainya.

  1. Multi Channel – Multi Phase

Sistem Multi Channel – Multi Phase sebagai contoh, daftar ulang para mahasiswa di universitas, pelayanan kepada pasien di rumah sakit dari pendapatan, diagnosa, penyembuhan sampai pembayaran. Setiap sistem-sistem ini mempunyai beberapa fasilitas pelayanan pada setiap tahap, sehingga lebih dari satu individu dapat dilayani pada suatu waktu.

Rumus yang digunakan untuk dapat memecahkan masalah ini adalah model M/M/S/I/I. Untuk M pertama menunjukkan tingkat kedatangan yang mengikuti suatu distribusi probabilitas poisson. M kedua menunjukkan tingkat pelayanan mengikuti distribusi probabilitas poisson. S menunjukkan jumlah fasilitas pelayanan (channel) dalam sistem tidak terbatas. I pertama menunjukkan bahwa sumber populasi tidak terbatas (infinite) dan I kedua menunjukkan kepanjangan antrian tidak terbatas. Berikut ini keterangan untuk rumus model M/M/S/I/I.

Tabel 1

Berikut ini rumus yang digunakan untuk Model M/M/S/I/I menurut Pengestu Subagyo (1999)

NOTASI PENJELASAN UKURAN
λ

μ

n

Tingkat kedatangan rata-rata

Tingkat pelayanan rata-rata

Jumlah Individu

Unit/jam

Unit/jam

Unit

Nq =       lm (l/m) s

(S-1)! (Sm-l)2

Jumlah individu rata-rata dalam antrian Unit
Nt = nq + μ

Tq =        Po

(λ/μ)

m S (S!) (1-(l/Sm)) 2

Jumlah individu dalam sistem total (antrian dan fasilitas pelayanan)

Waktu rata-rata dalam antrian

Unit

Jam

tt = tq + 1/μ

S

P = λ/μ . S

Waktu rata-rata dalam sistem total

Jumlah fasilitas pelayanan

Tingkat kegunaan fasilitas pelayanan

Jam

Unit pelayanan

Ratio

Po =               1

S-1

(λ/μ)             (λ/μ)

+

n!       S!(1-(λ/S.μ))

n = 0

Probabilitas menunggu dalam antrian Frekuensi relatif
                                Po

Pw = (λ/μ)

S! [1 – (λ/S μ) ]

Probabilitas menunggu dalam antrian Frekuensi relatif

METODE PENELITIAN

Adapun metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah dengan menggunakan metode antrian yaitu Multi Channel Single Phase yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang di bahas dalam penelitian ini.

Metode pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan/suatu organisasi secara langsung dari objek yang diteliti dan untuk kepentingan studi yang bersangkutan. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh/dikumpulkan dan disatukan oleh studi-studi sebelumnya atau yang diterbitkan oleh berbagai instansi lain berupa data dokumentasi ataupun arsip.

Data primer dikumpukan melalui penelitian lapangan yaitu dengan cara pengamatan (obsevasi), dan wawancara. Sedangkan data sekunder di dapat melalui kepustakaan yaitu dengan cara penelitian yang bersifat teoritis dan referensi.

  1. Penelitian Lapangan (Field Research)
  2. Pengamatan (Observasi)

Penulis melakukan pengamatan langsung di Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen. Penulis menghitung banyaknya jumlah nasabah yang datang setiap harinya. Pengamatan ini hanya dibatasi untuk pelayanan yang dilakukan oleh teller.

  1. Wawancara

Penulis melakukan wawancara pada salah satu karyawan teller untuk mendapatkan data yang dapat menunjang penelitian ini.

  1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data yang bersifat teoritis dan referensi yang dapat membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan ilmiah. Data yang dikumpulkan yaitu berupa literatur ilmiah, buku-buku, artikel, artikel dari internet, dan buku/diktat kuliah yang berhubungan dengan topik penulisan ini.

Alat analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif yaitu metode Multi Channel Single Phase. Multi Channel Single Phase adalah metode yang digunakan untuk dua atau lebih fasilitas pelayanan yang dialiri oleh antrian tunggal. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung data yang sudah diperoleh adalah sebagai berikut :

  1. Tingkat kegunaan pelayanan ( P )

P = λ / ( Sμ )

  1. Probabilitas tidak ada pelanggan/nasabah ( Po )

Po =                     1

S-1

S     λ / μ   ⁿ                       ( λ / μ ) S

n = 0       n !             +       S ! (1 – (λ/Sμ) )

  1. Jumlah rata-rata pengunjung dalam antrian ( nq )

nq =     λ μ (λ/μ) S     ( Po )

(S – 1)! (Sμ – λ )2

  1. Jumlah rata-rata nasabah dalam sistem ( nt )

nt = nq +     λ

μ

  1. Waktu rata-rata dalam antrian ( tq )

tq =               Po                     λ       S

μS ( S! ) (1-( λ/Sμ) )2      μ

  1. Waktu rata-rata dalam sistem ( tt )

tt = tq + ( 1 / μ)

  1. Probabilitas waktu menunggu dalam antrian ( Pw )

pw =         λ     S             Po

μ                        S ! (1 – (λ/Sμ) )

  1. Biaya pelayanan ( Cs )

Biaya pelayanan (Cs) =       Gaji Karyawan Kasir

Jumlah Hari Kerja x Jam Kerja

  1. Biaya menunggu ( Cw )

Biaya menunggu (Cw) =     Rata-rata Gaji Pelanggan

Jumlah Hari x Jam Kerja

  1. Biaya Fasilitas Pelayanan

E (Cs) = S x Cs

  1. Biaya nasabah menunggu dalam antrian

E (Cw) = nt x Cw

  1. Biaya Expected Total

E (Ct) = E (Cs) + (Cw)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah yaitu : Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tidak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.

Kini Bank Mandiri telah memiliki lebih dari 2200 jaringan kantor cabang diseluruh Indonesia, mulai dari daerah perkotaan hingga menjangkau ke pedalaman pedesaan, namun penulis memilih Bank Mandiri Kantor Cabang Pembantu (KCP) Jakarta Wisma Indosemen karena antriannya yang cukup banyak pada minggu tertentu. Bank Mandiri Kantor Cabang Pembantu (KCP) Jakarta Wisma Indosemen didirikan untuk membantu dan mempermudah kelancaran transaksi para nasabah Bank Mandiri, baik nasabah sendiri maupun nasabah lain atau masyarakat umum yang membutuhkan jasa perbankan untuk kepentingannya bertransaksi. Diantaranya untuk transfer uang, pencairan cek, dan lain sebagainya.

Dalam melayani para nasabah dan masyarakat umum Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen beroperasi selama 5 hari, berawal dari hari senin sampai dengan hari jum’at dan buka pada pukul 08.00 sampai dengan pukul 15.00 atau selama 7 jam namun jika nasabah masih banyak yang mengantri maka masih dapat dilayani hingga pukul 16.00.

Seiring dengan perkembangan waktu dan teknologi maka Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen juga akan mengalami perkembangan dan kemajuan dalam rangka untuk memberikan kemudahan pelayanan bagi para nasabahnya dan masyarakat umum yang ingin memanfaatkan jasa pelayanan perbankan.

Berikut adalah data jumlah kedatangan nasabah di Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen pada Bulan Januari atau dari tanggal 5 Januari 2015 – 30 Januari 2015

Tabel 2

Jumlah Kedatangan Nasabah Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen

Tanggal Hari Jam Operasional Jumlah Fasilitas (S) Jumlah Kedatangan Nasabah Rata-rata Jumlah Kedatangan
5 Januari 2015 Senin 08.00 – 15.00 3 145 21/jam
6 Januari 2015 Selasa 08.00 – 15.00 3 173 25/jam
7 Januari 2015 Rabu 08.00 – 15.00 3 158 22/jam
8 Januari 2015 Kamis 08.00 – 15.00 3 186 26/jam
9 Januari 2015 Jum’at 08.00 – 15.00 3 209 30/jam
12 Januari 2015 Senin 08.00 – 15.00 3 112 16/jam
13 Januari 2015 Selasa 08.00 – 15.00 3 102 14/jam
14 Januari 2015 Rabu 08.00 – 15.00 3 128 18/jam
15 Januari 2015 Kamis 08.00 – 15.00 3 197 28/jam
16 Januari 2015 Jum’at 08.00 – 15.00 3 187 27/jam
19 Januari 2015 Senin 08.00 – 15.00 3 148 21/jam
20 Januari 2015 Selasa 08.00 – 15.00 3 137 19/jam
21 Januari 2015 Rabu 08.00 – 15.00 3 169 24/jam
22 Januari 2015 Kamis 08.00 – 15.00 3 210 30/jam
23 Januari 2015 Jum’at 08.00 – 15.00 3 264 38/jam
26 Januari 2015 Senin 08.00 – 15.00 3 245 35/jam
27 Januari 2015 Selasa 08.00 – 15.00 3 158 22/jam
28 Januari 2015 Rabu 08.00 – 15.00 3 153 22/jam
29 Januari 2015 Kamis 08.00 – 15.00 3 165 23/jam
30 Januari 2015 Jum’at 08.00 – 15.00 3 282 40/jam

Sumber : Data Primer yang diolah, 2015.

Dari tabel diatas terlihat bahwa tanggal yang paling banyak nasabah yang datang adalah pada tanggal 30 Januari 2015, dimana terlihat nasabah yang datang sebanyak 282 nasabah dengan rata-rata jumlah kedatangan sebanyak 40 nasabah per jamnya.

Hasil perhitungan menggunakan metode Multi Channel – Single Phase yang dibagi menjadi 4 minggu, yaitu : minggu ke-1 tanggal 5 Januari 2015 – 9 Januari 2015, minggu ke-2 tanggal 12 Januari 2015 – 16 Januari 2015, minggu ke-3 tanggal 19 Januari 2015 – 23 Januari 2015, dan minggu ke-4 tanggal 26 Januari 2015 – 30 Januari 2015 maka dapat diperoleh hasil analisis antrian pada Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen dalam periode tertentu yang tertera pada tabel sebagai berikut :

Tabel 3

Hasil Kinerja Sistem Antrian Dengan 3 Teller

No. Keterangan Minggu Ke-1 Minggu Ke-2 Minggu Ke-3 Minggu Ke-4
1. Tingkat kegunaan pelayanan 0,8293 0,6913 0,8836 0,955
2. Probabilitas tidak ada nasabah dalam sistem 0,0462 0,0997 0,0295 0,0105
3. Jumlah rata-rata nasabah menunggu dalam antrian 3,37 1,07 5,98 19,42
4. Jumlah rata-rata nasabah dalam sistem 5,86 3,07 8,63 22,28
5. Waktu rata-rata dalam antrian 0,1317 0,0548 0,3053 0,6857
6. Waktu rata-rata dalam sistem 0,2317 0,154 0,4053 0,7857
7. Probabilitas waktu menunggu dalam antrian 0,6975 0,48 0,79 0,9142

Sumber : Data Primer yang diolah, 2015.

Dari tabel diatas terlihat bahwa pada minggu ke-4 antrian nasabah panjang mencapai 22 nasabah karena jumlah kedatangan nasabah yang lebih banyak dibandingkan minggu-minggu lainnya. Selain antrian yang panjang, pada minggu ke-4, nasabah juga harus menunggu selama 47 menit, jauh sekali jika dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya yang rata-rata nasabah tidak harus lama menunggu.

Antrian yang panjang akan mengakibatkan kerugian bagi Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen dan para nasabahnya. Kerugian yang timbul berupa biaya pelayanan dan biaya menunggu. Berikut ini adalah hasil perhitungan dari biaya pelayanan, biaya menunggu, dan biaya totalnya dari minggu ke-1, minggu ke-2, minggu ke-3, dan minggu ke-4 sebagai berikut :

Tabel 4

Ringkasan Hasil Biaya

No. Keterangan Minggu Ke-1 Minggu Ke-2 Minggu Ke-3 Minggu Ke-4
1. Biaya fasilitas pelayanan Rp. 64.285,71 Rp. 64.285,71 Rp. 64.285,71 Rp. 64.285,71
2. Biaya nasabah menunggu dalam antrian Rp. 83.714,26 Rp. 43.857,12 Rp. 123.285,67 Rp. 318.285,61
3. Biaya expected total Rp. 147.999,97 Rp. 108.142,83 Rp. 187.571,38 Rp. 382.571,32

Sumber : Data Primer yang diolah, 2015.

Berdasarkan dari data pada tabel 4 diatas maka dapat dilihat biaya fasilitas pelayanan sama dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4 karena penggunaan loket tellernya juga sama yaitu berjumlah 3 teller. Sedangkan untuk jumlah biaya nasabah menunggu termahal terdapat pada minggu ke-4 yaitu sebanyak Rp. 382.571,32.

KESIMPULAN

Maka tingkat pelayanan dan tingkat kegunaan yang sudah optimal hanya pada minggu ke-1, ke-2, dan ke-3. Karena panjang dan lama waktu mengantri nasabah di dalam antrian dan sistem masih dapat dilayani oleh teller dengan cepat. Sehingga biaya yang harus dikeluarkan oleh Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen dan nasabah tidak terlalu banyak.

Sedangkan pada minggu ke-4 tingkat penggunaan pelayanannya sudah sebesar 95,5%, namun masih banyak nasabah yang mengantri panjang, baik dalam antrian maupun dalam sistem. Sehingga pelayanan teller Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Indosemen akan kewalahan dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya jika hanya menggunakan 3 teller saja pada minggu ke-4.

DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Edisi Milenium. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs.

Mudrajad Kuncoro dan Suhardjono. 2002. Manajemen Perbankan. Yogyakarta: Penerbit BPFE.

Pangestu Subagyo dkk. 1999. Dasar-Dasar Operation Research. Cetakan Keduabelas. Yogyakarta: Penerbit BPFE.

Sri Mulyono. 2002. Operation Research (Riset Operasi). Jakarta: Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Supranto, Johanes. 1988. Riset Operasi Untuk Pengambilan Keputusan. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Supranto, Johanes. 1997. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Oleh hendikam

Review Jurnal

Jurnal 1

Judul Analisis Kinerja Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada Telkomsel Malang Area
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan
Volume dan Halaman Vol. 1, No. 1, Hal. 56-64
Tahun September, 1999
Penulis Sri Hadiati dan Sarwi Ruci
Reviewer Hendikam Dwi W
Tanggal 12 Maret 2015
Latar Belakang Fungsi, kualitas dan benefits dari suatu produk merupakan fokus perhatian konsumen. Kebutuhan konsumen yang terus meningkat dan disadari oleh tingkat kekritisan yang semakin tinggi, cenderung menuntut pelayanan secara pribadi dan ikut dilibatkan dalam pengembangan suatu produk. Hal inilah yang mendasari dasar pemikiran untuk tetap memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen dalam segala perubahan sehingga tidak akan berpaling ke produk substitusi.

Era telepon selular, khususnya Global System for Mobile communications (GSM), memang baru marak dalam beberapa tahun belakangan ini. Dari segi teknologi dan merek serta jenis, ponsel yang beredar di Indonesia sama sekali tidak ketinggalan dari negara lain. Performance sebuah ponsel sangat tergantung pada kecepatan mengatasi masalah after sales service yang sangat diharapkan oleh pelanggan.

Terdapat banyak operator selular di Indonesia, namun hanya beberapa yang menyediakan berbagai fasilitas untuk kemudahan pelanggannya. Dari beberapa operator tersebut Telkomsel dengan kartu HALO-nya adalah operator yang menyediakan feature yang paling banyak, disamping memiliki keunggulan dalam hal cakupan wilayah. Namun demikian belum semua pelanggan kartu HALO memanfaatkan fasilitas tersebut. Hal ini disebabkan oleh faktor ketidaktahuan atau keterbatasan informasi. Karena itu, promosi dibuat secara nasional melalui iklan di empat stasiun tv swasta, koran nasional dan korankoran daerah. Iklan ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pelanggan yang sama sekali tidak tahu. Brosur-brosur diberikan kepada pelanggan yang tahu ada feature tetapi belum bisa memanfaatkan secara maksimal.

Sebagai perusahaan yang masih muda, telkomsel memiliki visi jauh ke depan dan misi memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan negara. Satu – satunya alternatif Telkomsel adalah: tumbuh, berkembang dan berjaya. Untuk itulah seluruh potensi, lapisan dan

jajaran telkomsel harus selalu kreatif berinovasi, memiliki kesatuan sikap dan derap, melangkah maju dengan semangat kejuangan. Salah satu faktor kunci keberhasilan penyelenggaraan jasa selular dalam era persaingan ini adalah kemampuan suatu jaringan operasi menghadirkan customer service kepada masyarakat, suatu filosofi baru dunia untuk merajakan kepentingan para pelanggannya.

Keinginan untuk berhasil menyelesaikan masalah sekaligus memuaskan pelanggan adalah bagian budaya kerja karyawan Telkomsel. Kepedulian terhadap konsumen merupakan hal yang penting. Untuk meningkatkan kemampuan para karyawan dilakukan pelatihan kepada karyawan baru dan karyawan lama sehingga karyawan akan dapat meningkatkan produktivitasnya.

Tujuan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen dalam meningkatkan pemasaran jasa di Telkomsel Malang Area.
Metode 1.      Penentuan Perusahaan

Penelitian dilakukan di perusahaan jasa Telkomsel Malang Area, dengan pertimbangan sebagai berikut :

·         Perusahaan ini bergerak di bidang jasa telepon selular yang diminati oleh masyarakat.

·         Perusahaan ini mempunyai misi “Terdepan dalam mutu dan pelayanan”. Hal ini merupakan dasar untuk mengetahui kinerja kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan.

·         Perusahaan jasa lebih dekat dengan konsumen, mengetahui keinginan dan harapan pelanggan, sehingga untuk memenuhinya dapat lebih mudah dilakukan, dengan demikian kepuasan pelanggan dapat dicapai.

2.      Penentuan Sampel

Sampel dalam penelitian ini sebanyak 113 orang yang merupakan 10% dari populasi (pelanggan Telkomsel Malang Area) pada bulan Juli 1998. Populasi dari penelitian ini bersifat infinite, karena jumlah pelanggan tersebut bervariasi setiap saat. Sampel yang digunakan ini dianggap telah mewakili dari seluruh populasi yang ada. Sampel dipilih secara acak sederhana (simple random sampling), hal ini dianggap telah representatif.

3.      Pengumpulan Data

Data penelitian meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari obyek penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner), yang meliputi keinginan, kebutuhan dan harapan konsumen yang berkenaan dengan fasilitas fisik, keandalan atau kemampuan perusahaan dalam memuaskan pelanggan, ketepatan dan kecermatan dalam pelayanan, jaminan dan kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi, perhatian dan kenyamanan yang diberikan perusahaan pada konsumen. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, buku-buku literatur, majalah serta laporan penelitian yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini.

Hipotesis Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah : analisis kinerja kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan.
Hasil 1.      Menentukan Kualitas Pelayanan (Quality Service) Graha Pari Sraya Malang Yang Diberikan Kepada Pelanggan

Kualitas pelayanan yang diberikan Graha Pari Sraya kepada pelanggan antara lain:

·         Sikap Customer Service dalam memberikan pelayanan dan informasi kepada pelanggan baik secara langsung maupun melalui telepon.

·         Tanggapan, respon dan jawaban yang diberikan Graha Pari Sraya Malang kepada pelanggan yang menyampaikan keluhannya secara langsung maupun melalui telepon/surat.

·         Jasa pembayaran, hal ini berkaitan dengan cara dan tempat pelanggan dalam melakukan pembayaran tagihan. Telkomsel menyampaikan tagihan telepon dengan cara; pembayaran tunai, auto debet, transfer dana, ATM BCA dan kartu kredit.

·         Fasilitas tambahan yang dimiliki oleh kartu Halo, antara lain; Callipso/CLI (Calling Line Interpersonal), Veronica, Smile, call waiting, call forwarding, Farida, call baring, SLI, Roaming Nasional dan Roaming Internasional.

·         Ketepatan waktu pelayanan yang diberikan kepada pelanggan, antara lain : pembukaan pemblokiran, aktivasi dan validasi.

2.      Analisis Kinerja Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Pelanggan

·         Sikap Customer Service: terletak pada kuadran I dengan ordinat (3,9115, 4,2124), yang berarti bahwa sikap Customer Service memuaskan dan dianggap penting oleh pelanggan. Hal ini disebabkan karena adanya pelatihan karyawan dan informasi yang diberikan adalah jelas dan lengkap, serta sikap Customer Service ramah dan simpati.

·         Tanggapan terhadap Keluhan Pelanggan: terletak pada kuadran I dengan ordinat (3,7788, 4,2301), yang berarti bahwa tanggapan terhadap keluhan pelanggan memuaskan dan dianggap penting oleh pelanggan. Hal ini disebabkan karena Telkomsel cepat dalam menyelesaikan keluhan pelanggan dan pelanggan dapat melakukan pengaduan lewat telepon atau tatap muka.

·         Jasa Pembayaran: terletak pada kuadran III dengan ordinat (3,5664, 4,1062), yang berarti bahwa jasa pembayaran yang dilakukan oleh Graha Pari Sraya Malang kurang memuaskan dan kurang dianggap penting oleh pelanggan. Hal ini disebabkan karena kurang dimengertinya sistem pembayaran yang ditawarkan, padahal cara pembayarannya beragam dan memudahkan pelanggan dalam melakukan pembayaran.

·         Fasilitas Tambahan: terletak pada kuadran I dengan ordinat (4,1062, 4,2389) yang berarti bahwa adanya fasilitas tambahan adalah memuaskan dan dianggap penting oleh pelanggan. Hal ini disebabkan karena fasilitas tambahan ini menguntungkan pelanggan, memudahkan pelanggan dan merupakan kelebihan dari produk Telkomsel.

·         Ketepatan Waktu Pelayanan: terletak pada kuadran II dengan ordinat (3,0177, 4,2035) yang berarti bahwa ketepatan waktu pelayanan kurang memuaskan dan dianggap penting oleh pelanggan. Hal ini disebabkan karena proses pembukaan pemblokiran dianggap agak lamban, dan terkadang survei calon pelanggan kurang cepat.

Akan lebih ideal jika komponen 5, yaitu ketepatan waktu pelayanan

yang terletak di kuadran II bergeser menuju kuadran I, sehingga dapat memuaskan pelanggan. Oleh karena itu, Graha Pari Sraya Malang perlu melakukan tindakan peningkatan kualitas pelayanan dalam hal ketepatan waktu.

Kesimpulan Kualitas pelayanan Telkomsel, diproyeksikan dalam 5 komponen, yaitu; sikap Customer Service, tanggapan Graha Pari Sraya Malang dalam menghadapi keluhan pelanggan, jasa pembayaran, fasilitas tambahan dan ketapatan waktu pelayanan.

Setelah dilakukan pengukuran, penilaian dan analisis secara kuantitatif dengan menggunakan Diagram Cartesius maka menunjukkan bahwa :

·         Pelanggan merasa puas dan menganggap penting atas sikap Customer Service dalam memberikan informasi secara jelas dan simpati serta bersikap ramah.

·         Fasilitas tambahan dari kartu HALO memudahkan pelanggan. Hal ini merupakan kelebihan yang dirasakan manfaatnya oleh pelanggan dibandingkan produk lain.

·         Graha Pari Sraya Malang tanggap terhadap keluhan pelanggan dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi pelanggan dengan cepat. Hal ini memuaskan dan dianggap penting oleh pelanggan.

·         Jasa pembayaran kurang memuaskan bagi pelanggan. Hal ini dikarenakan keanekaragaman yang sebenarnya memudahkan pelanggan, kurang dipahami pelanggan. Pelanggan cenderung menginginkan pembayaran langsung ke Graha Pari Sraya, karena lebih mudah dan cepat diketahui jika pembayaran terlambat.

·         Ketepatan waktu pelayanan dan pembukaan pemblokiran kurang cepat dan kurang memuaskan, ini sering kali disebabkan karena terhalang hari libur dan hal ini bukan hanya kesalahan Graha Pari Sraya dan dealer tetapi terkadang juga disebabkan oleh pelanggan sendiri.

Saran 1.      Graha Pari Sraya Malang hendaknya mempertahankan kualitas pelayanan yang dianggap penting dan sudah memuaskan pelanggan, sehingga pelanggan akan dapat menjadi pelanggan yang loyal dan dapat digunakan sebagai tenaga promosi gratis kepada calon pelanggan.

·         Kualitas pelayanan yang belum memuaskan pelanggan adalah jasa pembayaran dan ketepatan waktu. Oleh karena itu, Graha Pari Sraya Malang harus dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan waktu pemrosesan. Untuk itu diperlukan koordinasi dengan tempat – tempat yang dapat dimanfaatkan oleh pelanggan dalam melakukan pembayaran.

2.      Saran kepada peneliti yang lain, diharapkan untuk meneruskan penelitian ini. Penelitian ini belum dapat menghasilkan komponen yang posisinya ideal, dimana komponen yang dianggap penting oleh pelanggan dapat terpuaskan. Dengan adanya kelanjutan penelitian ini diharapkan mampu mendapatkan hasil yang memuaskan dalam Diagram Cartesius yang baru, komponen yang dianggap penting oleh pelanggan dapat berada di Kuadran I. Kinerja peningkatan kualitas juga dapat diteliti lebih lanjut.

Sumber Jurnal : https://paul02583.files.wordpress.com/2008/05/man99010106.pdf

Jurnal 2

Judul Analisis Persepsi Konsumen dan Strategi Pemasaran Beras Analog (Analog Rice)
Jurnal Manajemen dan Organisasi
Volume dan Halaman Vol. IV, No. 2 Hal. 144-162
Tahun Agustus, 2013
Penulis Deviany Amanda Rizki, Jono M. Munandar, dan M. Syaefudin Andrianto
Reviewer Hendikam Dwi W
Tanggal 13 Maret 2015
Latar Belakang          Tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia pada 2011 tercatat mencapai 102 kg per kapita per tahun. Angka konsumsi beras ini paling tinggi dibandingkan tingkat konsumsi di negara lain seperti Korea 40 kg per kapita per tahun, Jepang 50 kg per kapita per tahun, Malaysia 80 kg per kapita per tahun dan Thailand 70 kilogram per kapita per tahun. Rata-rata konsumsi beras dunia hanya 60 kg per kapita per tahun (Tempo 2013). Dengan tingkat konsumsi beras yang tinggi, ketahanan pangan Indonesia sangat rawan terutama bila terjadi bencana sehingga produksi beras tidak sesuai target. Oleh karena itu perlu dilakukan diversifikasi pangan.

Perilaku masyarakat Indonesia bila belum makan nasi artinya belum makan sulit dirubah sehingga merubahnya membutuhkan strategi pentahapan. Salah satu strateginya adalah membuat beras tiruan dengan bahan selain dari padi (artificial rice). Konsumen masih menyimpan, mengolah dan memakan dalam bentuk beras tetapi bahan bakunya bukan dari padi. F-Technopark sebagai salah satu pusat penelitian di Institut Pertanian Bogor (IPB) telah mengembangkan invensi beras dengan bahan selain dari padi yang disebut dengan Beras Analog. Beras ini telah diujicoba dan sedang dikembangkan dalam skala pilot plant untuk dikembangkan lebih lanjut dalam skala industri. Manfaat beras ini dalam jangka panjang untuk mendiversifikasi makanan pokok. Beras ini sudah ada pada tahun 1969-an dengan nama beras TEKAD (keTelo, Kacang dan Djagung) tetapi gagal berkembang (Andrianto et al.,2013). Persepsi konsumen terhadap beras analog perlu dikaji agar beras analog sukses dipasarkan.

Beras analog IPB adalah beras buatan yang dibuat dari berbagai tepung lokal (umbi-umbian, serealia, sagu) dengan menggunakan teknologi ekstrusi panas. Beras Analog dikembangkan oleh F-Technopark Fakultas Teknologi Pertanian IPB sebagai pangan alternatif yang sehat dan aman serta memiliki sifat fisik dan fungsional menyerupai beras konvensional. Dari segi kandungan gizi, selain sama-sama merupakan sumber karbohidrat, Beras Analog terbukti lebih sehat karena memiliki Indeks Glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras konvensional. Dengan karakteristik produk yang memiliki bentuk butiran menyerupai beras dan dikonsumsi layaknya nasi serta mempunyai komposisi gizi sesuai kebutuhan, Beras Analog mempunyai prospek yang sangat baik sebagai produk substansi beras konvensional yang mendukung program diversifikasi pangan (Budijanto 2012).

Penjualan Beras Analog dilakukan sejak bulan November 2012 dengan sistem purchasing order di tiga lokasi yaitu Serambi Botani, Restoran Taman Koleksi dan Kantor Pemerintah Kota Depok, Jawa Barat. Dalam melakukan kegiatan pengembangan dan mensosialiasikan Beras Analog sebagai produk yang relatif baru, sampai saat ini F-Technopark IPB masih menemui hambatan dalam menembus pasar. Hal ini dapat dilihat dimana penjualan Beras Analog sejak bulan November 2012 hingga bulan Januari 2013 mengalami peningkatan di satu lokasi yaitu Serambi Botani. Sedangkan pada lokasi lain yaitu pada Restoran Taman Koleksi penjualan masih relatif kecil yaitu 20 kg per bulan dengan tidak adanya peningkatan maupun penurunan penjualan selama 3 bulan terakhir serta penjualan pada Kantor Pemerintah Kota Depok yang berlangsung selama 2 bulan yaitu bulan November – Desember 2012.

Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi yang tepat agar beras analog tersebut dapat memasuki pasar dan dapat di konsumsi oleh masyarakat sebagai pengganti beras konvensional.
Metode          Penelitian dilaksanakan di tiga tempat yaitu F-Technopark IPB, Serambi Botani Bogor dan Restoran Taman Koleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan stakeholder F-Technopark IPB sedangkan survey dengan bantuan kuesioner dilakukan di dua outlet penjualan produk Beras Analog yang masih aktif yaitu Serambi Botani Bogor dan Restoran Taman Koleksi. Data sekunder diperoleh melalui penelusuran pustaka, dokumen, dan laporan instansi terkait yang relevan dengan topik penelitian.

Dalam penelitian ini, jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus slovin dengan tingkat kepercayaan 90% sehingga nilai error (e) adalah 10% (0,1). Berdasarkan data populasi konsumen yang pernah membeli Beras Analog di Serambi Botani Bogor pada Maret 2013 adalah 186 orang, sedangkan data populasi konsumen yang pernah membeli produk Beras Analog di Restoran Taman Koleksi Bogor pada Maret 2013 adalah 88 orang. Sehingga total populasi yang pernah membeli produk Beras Analog sebesar 274 orang dengan asumsi populasi adalah konsumen yang melakukan pembelian sekali dalam sebulan. Pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik convenience sampling dengan kriteria untuk responden yang dipilih adalah yang sudah pernah mengkonsumsi produk Beras Analog.

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Excel 2007, IBM SPSS 19 dan Minitab 14. Kevalidan dan kesahihan data pada kuesioner menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas, sedangkan analisis data menggunakan tabulasi silang, analisis cluster (analisis kelompok) dan analisis biplot.

Hipotesis Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah : persepsi konsumen beras analog dan strategi pemasaran beras analog
Hasil 1.      Karakteristik Konsumen

Karakteristik konsumen dapat dijadikan dasar dalam membuat segmentasi konsumen. Pada penelitian ini responden dikaji berdasarkan jenis kelamin, usia, status pernikahan, pendidikan terakhir, klasifikasi pekerjaan, status pekerjaan, klasifikasi profesi, rata-rata pendapatan per bulan, rata-rata pengeluaran per bulan dan hobi. Data karateristik responden yang diperoleh akan dinyatakan sebagai input dalam aspek persepsi konsumen dan proses penentuan segmentasi pasar.

a.      Jenis Kelamin

Karakteristik konsumen Beras Analog berdasarkan jenis kelamin terdiri dari konsumen laki-laki 21,9% dan konsumen perempuan 78,1%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa konsumen Beras Analog didominasi oleh konsumen perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik konsumen perempuan yang cenderung lebih konsumtif dalam melakukan pembelian terhadap produk baru, khususnya produk yang digunakan sebagai bahan pangan.

b.      Usia

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa mayoritas konsumen Beras Analog didominasi oleh usia 31-40 tahun sebesar 35,6%, kemudian berturut – turut responden yang berusia 21-30 tahun sebanyak 27,4%, usia 41-50 tahun sebanyak 20,5%, usia 51-60 tahun sebesar 6,8%, usia kurang dari 20 tahun sebanyak 5,5% dan usia lebih dari 60 tahun sebanyak 4,1 %.

c.       Status Pernikahan

Dilihat dari status pernikahannya pada hasil pengolahan data responden, dapat diketahui bahwa sebagian besar konsumen Beras Analog dengan status menikah 61,6% dan belum menikah 38,4%. Hal ini menyatakan bahwa mayoritas konsumen Beras Analog telah memiliki keluarga.

d.      Tingkat Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani, konsumen Beras Analog memiliki latar belakang pendidikan S1 42,5%, diikuti pendidikan S2 20,5%, Diploma 17,8%, SMU/SMK 15,1% dan S3 4,1%. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa konsumen Beras Analog didominasi oleh konsumen berpendidikan S1.

e.      Klasifikasi Pekerjaan

Dilihat berdasarkan klasifikasi pekerjaan, responden paling banyak berstatus sebagai employee (pegawai) 42,5%. Kemudian diikuti dengan klasifikasi pekerjaan terbanyak kedua yaitu unemployee (tidak bekerja) 28,8%, business owner (pemilik usaha) 16,4%, self employee (pekerja lepas) 9,6%, dan investor (penanam modal) 2,7%.

f.        Status Pekerjaan

Berdasarkan hasil pengolahan data responden diperoleh data bahwa konsumen Beras Analog yang memiliki status pekerjaan sebagai pegawai swasta 24,7%. Kemudian diikuti dengan status pekerjaan PNS 23,3%, ibu rumah tangga 21,9%, wiraswasta 17,8% dan mahasiswa/pelajar 12,3%.

g.      Profesi

Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa mayoritas konsumen Beras Analog berprofesi sebagai Ibu rumah tangga sebanyak 19,2%. Profesi dengan %tase terendah adalah politikus 1,4%.

h.      Pendapatan Per Bulan

Berdasarkan hasil pengolahan data kuesioner penelitian diketahui bahwa responden Beras Analog mayoritas memiliki pendapatan per bulan sebesar Rp 4.500.001–Rp 6.000.000 sebanyak 30,1%. Hal ini dikarenakan harga Beras Analog yang masih relatif mahal dibandingkan beras biasa (konvensional) pada umumnya, menyebabkan mayoritas konsumennya adalah yang berpendapatan di atas rata-rata.

i.        Pengeluaran Per Bulan

Besarnya pengeluaran per bulan sebagian besar konsumen Beras Analog adalah Rp 3.000.001–Rp 4.500.000 dengan persentase 28,8%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas konsumen tidak terlalu mempertimbangkan harga sebagai faktor utama untuk membeli produk Beras Analog.

j.        Hobi

Berdasarkan klasifikasi hobi, responden Beras Analog memiliki hobi jalan-jalan dengan persentase terbesar 23,3%. Disusul dengan hobi membaca 21,9%, belanja 19,2%, wisata kuliner 17,8%, browsing 9,6% dan lainnya yang terdiri dari mendengarkan musik, menonton film dan berenang 8,2%.

2.      Persepsi Konsumen

a.      Kesan terhadap Beras Analog

Perbedaan Beras Analog dengan beras biasa (konvensional) menimbulkan penilaian atau kesan yang berbeda-beda oleh masing-masing responden. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa 35,6% responden memberikan kesan suka, kemudian 30,1% responden memberikan kesan cukup, 19,2% responden memberikan kesan kurang suka, 12,3% memberikan kesan sangat suka, dan 2,7% responden memberikan kesan tidak suka terhadap Beras Analog. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa konsumen yang menyukai Beras Analog masih dibawah 50% yaitu sebesar 47,9% (kesan sangat suka dan suka). Hal ini menandakan bahwa belum terdapat penilaian positif terhadap kesan Beras Analog.

b.      Penilaian terhadap Rasa, Warna, Aroma, Teksur dan Bentuk Beras Analog

Penilaian terhadap rasa, aroma, tekstur dan bentuk memiliki persentase terbesar terhadap penilaian suka dengan masing-masing persentase 43,8% untuk rasa, 32,9% untuk aroma, 45,2% untuk tekstur dan 49,3% untuk bentuk. Sedangkan persentase penilaian terbesar untuk warna adalah 31,5%. Hal ini dikarenakan warna pada Beras Analog berbeda dengan warna beras biasa pada umumnya yaitu kuning kecoklat-coklatan yang berasal dari warna alami jagung.

c.       Tipe Konsumsi Beras Analog

Menurut 57,5% responden Beras Analog menyatakan produk Beras Analog cocok untuk dikonsumsi sebagai makanan selingan (kuliner), sementara 42,5% berpendapat produk Beras Analog cocok untuk dikonsumsi sebagai makanan pokok. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa keberadaan Beras Analog untuk saat ini belum mampu disetarakan dengan beras biasa (konvensional) yang dijadikan makanan pokok untuk mayoritas masyarakat Indonesia.

d.      Bahan Kemasan Beras Analog

Dalam memilih kemasan Beras Analog, bahan kemasan yang paling banyak disukai oleh konsumen akhir untuk produk Beras Analog adalah bahan kemasan jenis Standing Pouch (Kemasan plastik yang dapat berdiri) yaitu 67,1%. Kemasan Standing pouch banyak dipilih oleh konsumen dikarenakan Standing Pouch dianggap ekslusif atau jarang ditemui pada kemasan beras pada umumnya, sehingga memiliki daya jual yang tinggi.

e.      Ukuran Kemasan Beras Analog

Ukuran kemasan yang banyak disukai responden untuk produk Beras Analog adalah ukuran 800 gram sebesar 39,7%, disusul dengan ukuran 1 kg sebesar 34,2%, 12,3% untuk ukuran 2 kg, 9,6% untuk ukuran 0,5 kg dan 5 kg sebesar 4,1%. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa ukuran kemasan 800 gram dianggap sesuai untuk sebuah produk yang relatif baru.

f.        Keterangan atau Informasi pada Kemasan Beras Analog

Pada kemasan yang sudah beredar di pasaran, keterangan atau informasi yang tertera pada kemasan Beras Analog yaitu komposisi bahan, nilai gizi, kode produksi, tanggal kadaluarsa, aturan penyajian, logo produsen, nama dan alamat konsumen serta merek dagang produk. Sedangkan kode seri SNI dan logo kehalalan produk belum dicantumkan pada kemasan yang beredar saat ini. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa 15,1% responden menyatakan pencantuman nilai gizi pada kemasan Beras Analog dianggap paling penting yang harus tertera pada kemasan.

g.      Lokasi Pemasaran Beras Analog

Sebanyak 41,4% responden menyatakan lokasi yang tepat untuk memasarkan Beras Analog adalah pada pasar modern. Sebagian besar konsumen memilih pasar modern dikarenakan pasar modern mengalami pertumbuhan pesat setiap tahunnya dan jika Beras Analog dapat dipasarkan pada pasar modern, Beras Analog dapat bersaing dengan berbagai macam tipe beras yang sudah beredar di pasaran.

h.      Bentuk Promosi Pemasaran Beras Analog

Bentuk promosi yang tepat yang diharapkan oleh responden untuk Beras Analog adalah melalui iklan televisi dengan persentase terbesar yaitu 21,7%. Hal ini dikarenakan televisi merupakan bentuk media massa paling efektif karena televisi dapat menjangkau semua kalangan masyarakat.

i.        Harga Beras Analog

Persentase terbesar untuk harga Beras Analog per pack adalah Rp 23.000 ukuran 800 gram sebesar 37%. Persentase terkecil adalah Rp 50.000 ukuran 2 kg sebesar 11%.

j.        Minat Mengkonsumsi Kembali

Setelah memberikan kesan dan penilaian terhadap Beras Analog, responden menyatakan pendapatnya tentang minat mengkonsumsi kembali Beras Analog. Hal ini dikarenakan mayoritas responden baru mengkonsumsi produk Beras Analog sebanyak satu kali. Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa 79,5% responden menyatakan keinginannya untuk mengkonsumsi kembali Beras Analog, sedangkan 20,5% responden menyatakan tidak.

3.      Tabulasi Silang

Nilai crosstabulation yang korelasinya berada kurang dari 0.1 maka dapat dinyatakan adanya korelasi atau hubungan pada variabel tersebut.

a.      Hubungan antara Usia dengan Kesan

Responden yang mempunyai kesan sangat suka terhadap Beras Analog lebih banyak berasal dari responden dengan kalangan usia 41-50 tahun yaitu 6.8%. Konsumen pada usia ini biasanya akan lebih selektif dalam pemilihan konsumsi pangan yang lebih sehat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk konsumsi keluarganya. Pada output hasil uji Chi-Square, nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,095 yang lebih kecil dari 0.10 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kesan.

b.      Hubungan antara Status Pernikahan dengan Kesan

Mayoritas responden yang mempunyai kesan sangat suka dan suka didominasi oleh responden yang sudah menikah yaitu 11% dan 24,7%. Responden yang telah memiliki keluarga lebih selektif dalam pemilihan pangan pokok karena bertanggungjawab untuk memperhatikan konsumsi keluarganya sehari-hari. Sedangkan responden yang belum berkeluarga cenderung lebih fleksibel dalam pemilihan konsumsinya. Pada output hasil uji Chi-Square, nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,090 yang lebih kecil dari 0,10. Sehingga terdapat hubungan antara karakteristik status pernikahan dengan kesan terhadap Beras Analog.

c.       Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kesan

Persentase terbesar untuk kesan suka dimiliki oleh pendidikan tingkat S1 dengan persentase 17,8%, sedangkan kesan tidak suka dimiliki oleh pendidikan SMU/SMK dengan persentase 2,7% Hasil output uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kesan karena Nilai Asymp.Sig.(2-sided) pada output bernilai 0,085 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan (0,085 < 0,10).

d.      Hubungan antara Pendapatan dengan Kesan

Berdasarkan hasil tabulasi silang, persentase terbesar responden terhadap kesan sangat suka dan suka didominasi oleh responden yang memiliki rata-rata pendapatan antara Rp 4.500.001–Rp 6.000.000. Sedangkan kesan tidak suka dimiliki oleh responden yang memiliki rata-rata pendapatan 2,7%. Nilai Asymp.Sig pada output uji Chi-Square menunjukkan angka 0,025 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin Besar pendapatan semakin besar persentase yang menyukai Beras Analog.

e.      Hubungan antara Pengeluaran dengan Kesan

Berdasarkan hasil tabulasi silang, persentase terbesar responden terhadap kesan sangat suka dan suka didominasi oleh responden yang memiliki rata-rata pengeluaran Rp 3.000.001–Rp 4.500.000. Sedangkan kesan tidak suka dimiliki oleh responden yang memiliki rata-rata pengeluaran Rp 1.500.001 –Rp 3.000.000 yaitu 2,7% Nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,090 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik pengeluaran berhubungan signfikan dengan kesan terhadap Beras Analog.

f.        Hubungan antara Kesan dengan Minat Mengkonsumsi Kembali

Berdasarkan hasil tabulasi silang, kesan responden terhadap Beras Analog sangat menentukan minat mengkonsumsi kembali, hal ini dapat dilihat pada Tabel 7 yang menyatakan bahwa sebesar 12,3% responden menyatakan sangat suka, 35,6% menyatakan suka, 23,3% menyatakan cukup suka, 8,2% menyatakan suka, dengan sebanyak 79,5% menyatakan minat untuk mengkonsumsi kembali. Nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,000 yang lebih kecil dari taraf nyata yang menyatakan bahwa kesan terhadap Beras Analog berhubungan signfikan dengan minat mengkonsumsi kembali.

g.      Hubungan antara Kesan dengan Tipe Konsumsi

Berdasarkan hasil tabulasi silang, kesan responden terhadap Beras Analog juga menentukan tipe konsumsi apa yang cocok untuk Beras Analog. Sebanyak 28,7% konsumen yang menyukai Beras Analog (kesan sangat suka dan suka) menyatakan bahwa Beras Analog cocok untuk dikonsumsi sebagai makanan pokok. Sedangkan mayoritas konsumen yang menyatakan kesan cukup dan kurang suka dengan masing-masing 19,2% dan 17,8% menyatakan Beras Analog cocok untuk dikonsumsi sebagai makanan selingan (kuliner). Nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,016 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kesan terhadap Beras Analog berhubungan signfikan dengan tipe konsumsi Beras Analog.

4.      Analisis Cluster

Penelitian ini menggunakan analisis cluster untuk menganalisis data yang diperoleh dari kuesioner yang disebarkan kepada 73 responden. Hasil dari analisis ini akan digunakan untuk menentukan segmentasi pasar Beras Analog yang merupakan bagian dari perencanaan strategi pemasaran. Segmentasi didasarkan atas karakteristik demografi konsumen yang signifikan berdasarkan hasil uji tabulasi silang yaitu usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan dan pengeluaran serta kesan terhadap Beras Analog. Prosedur analisis cluster yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode hierarki. Analisis Hierarki Cluster digunakan untuk sampel < 100. Variabel kuesioner penelitian dalam karakteristik demografi dan kesan terhadap Beras Analog merupakan kombinasi variabel nominal, ordinal, interval dan rasio. Untuk melakukan analisis cluster, variabel-variabel tersebut perlu dilakukan standarisasi data terlebih dahulu. Setelah dilakukan standarisasi data, tahap selanjutnya adalah mengelompokkan variabel-variabel tersebut dalam hierarki cluster. Untuk melakukan interpretasi terhadap cluster yang terbentuk dapat dilihat pada output dendogram.

Dua tahap terakhir dari dendogram memiliki jarak paling besar. Untuk mendapatkan cluster yang memiliki kemiripan paling dekat, maka jarak yang dipilih adalah yang memiliki jarak paling kecil. Dari Gambar tersebut maka dapat dipilih 4 cluster yang berada pada rentang jarak 3-5. Dari keempat cluster tersebut didapatkan masing-masing kelompok yang memiliki kemiripan berdasarkan variabel usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan serta kesan terhadap Beras Analog. Berikut adalah hasil analisis hierarki cluster yang terbagi menjadi 4 cluster.

5.      Analisis Biplot

Berdasarkan hasil analisis biplot, atribut dapat dipetakan menjadi kwadran yang menggambarkan keragaan kategori dan atributnya. Pada peubah SP (sangat penting), garis vector terlihat cukup panjang karena di sekitar garis tersebut terdapat cukup banyak atribut yang diwakilkan, yaitu atribut Manfaat Kesehatan, Keamanan dikonsumsi dan Kandungan Nutrisi. Sedangkan untuk atribut Promosi dan Daya Tahan produk terdapat pada peubah P (penting).

Selain itu melalui analisis Biplot dapat diketahui pula hubungan (korelasi) antar peubah. Hubungan (korelasi) antar peubah dijelaskan dengan besarnya sudut yang terbentuk dari dua buah garis atribut. Semakin lancip sudut (< 90°) yang terbentuk dari dua buah garis atribut, maka nilai korelasinya semakin besar (korelasi positif), sedangkan semakin tumpul sudutnya (> 90°) yang terbentuk dari dua buah garis atribut, maka nilai korelasinya semakin kecil (negatif). Dua buah garis atribut yang membentuk sudut siku-siku (90°) maka tidak ada korelasi antara kedua atribut tersebut.

Atribut nutrisi berkorelasi positif dengan atribut manfaat dan keamanan di konsumsi. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa semakin kaya nutrisi yang terkandung dalam suatu produk, semakin banyak manfaat kesehatan yang dapat diperoleh sehingga produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Informasi lain yang didapat pada analisis Biplot ini adalah keragaman yang diterangkan oleh sumbu x sebesar 72% dan sumbu y sebesar 15,6% sehingga secara keseluruhan keragaman yang diterangkan oleh kedua sumbu ini sebesar 87,6%. Keragaman peubah (atribut) digambarkan dari panjang vector masing-masing atribut. Semakin panjang vektor suatu atribut, maka keragaman atribut semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Pada Gambar 5 terlihat bahwa atribut harga, warna dan tekstur memiliki vektor yang lebih panjang dibandingkan dengan vector lainnya. Nilai keragaman ini menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap dua atribut tersebut lebih beragam dibandingkan atribut-atribut lainnya.

6.      Strategi Pemasaran

Kotler dan Armstrong (2008) menjelaskan bahwa seluruh strategi pemasaran dibangun berdasarkan STP, Yaitu Segmentation (segmentasi), Targetting (penentuan target pasar), dan Positioning (penentuan posisi):

a.      Segmentasi Pasar Beras Analog

Menurut Setiadi (2008), segmentasi pasar adalah proses menempatkan konsumen dalam subkelompok di pasar produk, sehingga para pembeli memiliki tanggapan yang hampir sama dengan strategi pemasaran dalam penentuan posisi perusahaan. Berdasarkan analisis hierarki cluster, maka dapat dilakukan analisis segmentasi pasar yang diperoleh berdasarkan dua cluster dimana cluster 1 sebesar 32%, cluster 2 sebesar 25%, cluster 3 sebesar 34% dan cluster 4 sebesar 9%. Dengan karakteristik untuk masing-masing cluster adalah sebagai berikut :

−        Cluster 1

Merupakan responden berusia 21-30 tahun, belum menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 1.500.000-Rp 3.000.000 serta memiliki kesan cukup terhadap Beras Analog.

−        Cluster 2

Merupakan responden berusia 31-40 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu diploma, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 3.000.001-Rp 4.500.000 serta memliki kesan cukup terhadap Beras Analog.

−        Cluster 3

Merupakan responden berusia 31-40 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 4.500.001-Rp 6.000.000 serta memliki kesan suka terhadap Beras Analog.

−        Cluster 4

Merupakan responden berusia 41-50 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S2, memiliki rata-rata pendapatan dan per bulan Rp 4.500.001-Rp 6.000.000 dan rata-rata pengeluaran per bulan Rp 3.000.001-Rp 4.500.000 serta memliki kesan suka terhadap Beras Analog.

b.      Penetapan Pasar Sasaran Beras Analog

Menurut Umar (2000), terdapat tiga faktor untuk menetapkan pasar sasaran dalam rangka mengevaluasi dan memutuskan berapa segmen pasar yang akan dicakup serta segmen mana yang akan dilayani yaitu ukuran dan pertumbuhan segmen, kemenarikan struktural segmen serta sasaran dan sumber daya perusahaan.

Berdasarkan segmen yang telah didapatkan dari analisis hierarki cluster, jika dilihat berdasarkan ukuran segmen, ukuran dengan jumlah konsumen terbesar berada pada cluster 3 dengan jumlah konsumen sebesar 34%. Berdasarkan kemenarikan ukuran segmen, cluster 1 dan cluster 2 belum menarik dari sisi profitabilitasnya. Hal ini dapat dilihat dari variabel kesan dimana cluster 1 dan 2 hanya mempunyai kesan cukup terhadap Beras Analog. Padahal variabel kesan suka sangat mempengaruhi daya tarik segmen yang positif untuk jangka panjang. Oleh karena itu penetapan target sasaran harus mengacu pada konsumen yang menyatakan kesukaannya pada Beras Analog.

F-Technopark IPB selaku pihak produsen Beras Analog harus mempertimbangkan sasaran dan sumber dayanya dalam kaitan dengan segmen pasar. Walau ada segmen yang bagus, akan tetapi dapat ditolak jika tidak prospektif dalam jangka panjang serta harus mempertimbangkan kemampuan dalam menyediakan sumber dayanya. Berdasarkan hasil wawancara, saat ini F-Tehncopark masih minim dalam ketersediaan sumber daya. Jika ingin mencakup lebih dari satu segmen maka diperlukan sumber daya yang besar untuk menjangkaunya. Meskipun cluster 4 mempunyai kesan suka, tapi persentase segmennya hanya 9%, Oleh karena itu, cluster 3 merupakan pilihan tepat untuk di tetapkan sebagai pasar sasaran dengan karateristik responden yaitu berusia 31-40 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 4.500.000-Rp 6.000.000 serta memiliki kesan suka terhadap Beras Analog.

c.       Perumusan Positioning Beras Analog

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui penyebaran kuesioner preferensi derajat kepentingan atribut Beras Analog, pihak perusahaan dapat menyusun strategi pemasarannya dengan menonjolkan kepada pasar dimana letak perbedaannya dengan pesaing. Langkah ini diambil karena Beras Analog merupakan produk baru yang belum dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga penting sekali bagi Beras Analog untuk menciptakan strategi pemasaran yang membedakan dirinya dengan produk pesaing.

Rumusan strategi pemasaran yang menonjolkan perbedaan dengan pesaing harus dibuat berdasarkan atribut yang dianggap sangat penting oleh konsumen. Atribut-atribut yang dianggap sangat penting dapat menjadi tolak ukur perumusan positioning Beras Analog. Berdasarkan hasil analisa yang telah didapat, maka pihak perusahaan dapat membuat perumusan positioning sebagai berikut:

“Beras Analog merupakan beras alternatif non padi yang aman dikonsumsi karena mengandung lebih banyak nutrisi dan bermanfaat untuk kesehatan”. Adapun tagline yang dapat diberikan untuk Beras Analog antara lain: (1) “ Beras Analog, Beras Sehat kaya Nutrisi” (2) “Analog rice, My Rice My Healthy”.

Kesimpulan          Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah berdasarkan karateristik konsumen dapat diketahui bahwa sebagian besar konsumen berjenis kelamin perempuan dengan kelompok usia 31-40 tahun dan dengan status menikah. Tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani adalah S1 dengan klasifikasi pekerjaan employee (pegawai), status pekerjaan sebagai pegawai swasta, dan memiliki profesi sebagai ibu rumah tangga dengan rata-rata pendapatan per bulannya Rp 4.500.001-Rp 6.000.000. Adapun rata-rata pengeluaran konsumen per bulan adalah Rp 3.000.000-Rp 4.500.000. Hobi sebagian besar konsumen Beras Analog adalah jalan-jalan.

Berdasarkan persepsi konsumen diketahui bahwa mayoritas konsumen menyatakan kesan suka terhadap Beras Analog dengan penilaian suka pada rasa, aroma, teksur dan bentuk serta penilaian cukup pada warna. Tipe konsumsi yang cocok untuk Beras Analog adalah sebagai makanan selingan (kuliner). Bahan kemasan yang disukai sebagian besar konsumen Beras Analog adalah kemasan Standing Pouch dengan ukuran kemasan 800 gram serta Informasi yang dibutuhkan yang harus tertera pada kemasan adalah informasi nilai gizi. Lokasi pemasaran yang tepat untuk Beras Analog kedepannya adalah melalui pasar modern dengan bentuk promosi melalui iklan di televisi. Kisaran harga per packnya untuk Beras Analog adalah Rp 23.000 per 800 gram. Berdasarkan semua penilaian konsumen, sebagian besar konsumen berminat untuk mengkonsumsi kembali Beras Analog kedepannya. Pada hasil tabulasi silang, terdapat hubungan yang signifikan antara kesan dengan usia, status pernikahan, pendidikan, pendapatan dan pengeluaran serta minat mengkonsumsi kembali dan tipe konsumsi. Berdasarkan banyaknya jumlah responden yang menyukai dan berminat untuk mengkonsumsi kembali Beras Analog, maka dapat disimpulkan persepsi konsumen terhadap produk ini baik.

Berdasarkan Analisis Cluster dengan menggunakan Hierarki Cluster dapat diketahui bahwa jumlah segmen yang dapat dibentuk berdasarkan karateristik demografi konsumen yang signifikan pada hasil tabulasi silang (usia, status pernikahan, pendidikan, pendapatan dan pengeluaran) dan kesan adalah berjumlah empat segmen. Profil target pasar yang dipilih adalah yang memiliki persentase terbesar dan memiliki kesan “suka” sehingga cluster (segmen) yang terpilih yaitu cluster 3 dengan karateristik konsumen berusia 31-40 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 4.500.001 – Rp 6.000.000. Berdasarkan Analisis Biplot, dapat diketahui bahwa posisi atribut yang berada pada derajat kepentingan sangat penting adalah atribut manfaat kesehatan, kandungan nutrisi dan keamanan dikonsumsi sehingga perumusan positioning yang dapat disusun adalah “Beras Analog merupakan beras alternatif non padi yang aman dikonsumsi karena mengandung lebih banyak nutrisi dan bermanfaat untuk kesehatan”.

Sumber Jurnal : http://manajemen.fem.ipb.ac.id/images/uploads/Volume_IV_No_2_Agustus_2013_5.pdf

Oleh hendikam

Tulisan Tentang Penalaran Deduktif : Persaingan Motor Buatan Jepang

Nama : Hendikam Dwi W
NPM : 13212383
Kelas : 3EA04
Judul : Persaingan Motor Buatan Jepang
Penalaran : Deduktif

Sudah sejak lama motor pabrikan jepang menjadi pemimpin pasar di berbagai negara. Contohnya saja 2 produsen asal Jepang yang sudah sangat terkenal, yaitu Yamaha dan Honda yang sudah lama sekali memproduksi berbagai jenis dan tipe motor di dunia. Mulai dari jenis motor bebek, motor sport, motor matik, dan lain sebaginya diproduksi untuk kemudian di ekspor dan dijual di berbagai negara. Namun yang sering menjadi sasaran oleh Yamaha dan Honda adalah negara – negara berkembang seperti Indonesia, Thailand, filipina, India, dan lain sebagainya. Negara berkembang menjadi pasar yang sangat menjanjikan keuntungan yang besar dibanding negara – negara maju lainnya.

Motor Yamaha dan Honda sudah lama dikenal dengan mesin yang sangat irit dalam pemakaiannya. Mesin yang irit itu ditandai dengan hasil tes yang sangat mengagumkan. Hasil dari tes tersebut membuat para kompetitornya tercengang melihat keiritan dari mesinnya. Mesin motor Yamaha dan Honda dapat berjalan hingga 40 km lebih hanya dengan 1 liter bensin saja. Inilah keiritan yang menjadi daya tarik bagi para konsumennya. Mesin yang irit itu menjadi prestasi tersendiri bagi Yamaha dan Honda karena membuat kompetitor lainnya merasa geram dan takut kalau pangsa pasarnya akan terebut oleh Yamaha dan Honda.

Selain keiritannya, motor buatan Honda dan Yamaha juga sangat tahan lama. Beberapa tipe motor yang di produksi oleh Yamaha dan Honda dapat bertahan selama 10 hingga 20 tahun. Waktu yang sangat lama untuk sebuah sepeda motor yang dapat digunakan untuk kegiatan seperti bekerja ataupun untuk usaha lainnya. Jika motor itu digunakan untuk bekerja sehari – hari maka akan membuat pengeluaran untuk ongkos dapat dikurangi. Namun jika motor tersebut digunakan untuk usaha niaga, maka akan sangat menguntungkan bagi pemilik usaha tersebut berkat keiritan dan ketahanan mesinnya.

Teknologi yang di terapkan pada motor Yamaha dan Honda sangat bermanfaat dan sangat menguntungkan bagi pemiliknya. Blue Core adalah teknologi yang diciptakan oleh Yamaha agar motor yang diproduksinya dapat lebih irit tetapi tetap memiliki tenaga yang besar. Pada motor Honda, terdapat juga teknologi yang dapat mengiritkan bbm yang biasa disebut PGM-Fi atau Idling Stop. Kedua teknologi yang di gunakan motor Yamaha dan Honda memiliki kegunaan yang sama dan sama – sama sudah ramah lingkungan. Teknologi yang ramah lingkungan dapat dilihat dari kadar Co2 yang dikeluarkan oleh motor tersebut. Motor Yamaha dan Honda sekarang ini rata – rata mengeluarkan gas Co2 yang sangat sedikit sesuai standar dunia yang telah berlaku sejak beberapa tahun belakangan ini.

Dari sisi harga, motor Yamaha dan Honda sangat kompetitif sesuai dengan kualitasnya yang sudah terbukti sejak lama. Harga satu motor sport bercilinder 150 produksi Yamaha dibanderol dengan harga 29 jutaan. Harga satu motor sport bercilinder 150 produksi Honda dibanderol dengan harga 30 juta. Harga yang ditawarkan menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam penjualan motor Yamaha dan Honda. Berbeda sedikit saja harga yang ditawarkan akan membuat takut para pesaingnya. Para pesaing – pesaingnya pasti akan melakukan strategi marketing untuk menurunkan harga yang berbeda tipis namun tetap kompetitif.

Pelayanan service yang diberikan oleh Yamaha dan Honda sangat beragam demi memberikan yang terbaik untuk para konsumennya. Yamaha memberikan pelayanan service motor rata – rata selama 40 – 50 menit. Honda memberikan pelayanan service motor rata – rata selama 30 – 50 menit. Pelayanan terbaik dan tercepat yang diberikan oleh Yamaha dan Honda kepada konsumen akan membuat rasa nyaman dan senang.

Oleh hendikam

SEGMENTASI PASAR

SEGMENTASI PASAR
Pengertian segmentasi pasar
Segmentasi pasar adalah pengelompokkan pasar menjadi kelompok–kelompok konsumen yang homogen, dimana tiap kelompok (bagian) dapat dpilih sebagai pasar yang dituju (ditargetkan) untuk pemasaran suatu produk.
Menurut Saladi (2003 : 83), pengertian segmentasi pasar adalah sebagai berikut :
“Segmentasi pasar adalah proses pengelompokkan – pengelompokkan pasar ke dalam kelompok pembeli yang potensial dengan kebutuhan yang sama, dan atau karakteristik yang disukai serta memperlihatkan hubungan pembelian yang sama pula”
Sedangkan menurut Kotler (2006 : 281) mengatakan bahwa :
“Segmentasi pasar membagi sebuah pasar ke dalam kelompok-kelompok yang khas berdasarkan kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang terpisah”
Dan menurut Kasali (2000 : 118) adalah :
“Suatu proses untuk membagi-bagi atau mengelompokkan konsumen ke dalam kotak-kotak yang lebih homogen”
Pasar terdiri dari para pembeli. Setiap pembeli berbeda dalam satu atau banyak hal, dapat berupa keinginan, sumber daya, lokasi, perilaku, maupun praktek-praktek mambelinya. Variabel tersebut dapat dipergunakan untuk memisahkan pasar atau segmentasi pasar.

Agar segmentasi pasar atau pengelompokkan pasar dapat berjalan dengan efektif maka harus memenuhi syarat-syarat pengelompokkan pasar sebagai berikut :
1. Measurability, yaitu ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu pembeli harus dapat diukur atau dapat didekati.
2. Accessibility, yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dapat secara efektif memusatkan (mengarahkan) usaha pemasarannya pada segmen yang telah dipilih.
3. Substantiability, yaitu segmen pasar harus cukup besar atau cukup menguntungkan untuk dapat dipertimbangkan program-program pemasarannya.
3. Substantiability, yaitu segmen pasar harus cukup besar atau cukup menguntungkan untuk dapat dipertimbangkan program-program pemasarannya.

Pada hakekatnya setiap perusahaan yang menjual barang dan jasa hendaknya perlu melakukan segmentasi pasar (market segmentation). Lalu timbul suatu pertanyaan. Apa definisi atau pengertian segmentasi pasar (market segmentation)? dan apa pula tujuan segmentasi pasar (marketing segmentation) itu? Morrison memberikan definisi atau pengertian tentang market segmentation (segmentasi pasar) dengan mengatakansebagai berikut : “Market segmentation is the division of the overall market for a service into groups with common characteristics” Atau dalam terjemahan bebasnya (bahasa Indonesia) dikatakan bahwa segmentasi pasar (market segmentation) merupakan pembagian dari keseluruhan pasar untuk suatu pelayanan dalam kelompok-kelompok dengan karakteristik umum. Segmentasi pasar (marketing segmentation) merupakan suatu langkah awal pemasaran (marketing) untuk membagi-bagi berbagai macam konsumen yang ada di pasar dan memilih salah satu bagian dari segmen tersebut yang akan dijadikan target pemasaran (Marketing Target). Yang dimaksud dengan target pemasaran (Marketing Target) di atas adalah jenis konsumen yang dipilih merupakan tujuan pemasaran (marketing goals) paket outbound tour. Tujuan utama segmentasi pasar (Market Segmentation) adalah untuk merangsang semua pelanggan yang berpotensial. Pemasaran (marketing) yang tidak memiliki target adalah sia-sia, karena ada banyak kelompok pelanggan yang mungkin tidak tertarik untuk membeli jasa yang dijual. Inti dari suatu pemasaran (marketing) yang baik adalah mengambil satu segmen yang paling menarik dalam pelayanan yang spesifik dan mengaplikasikan unsur-unsur pemasaran terhadap segmen tersebut. Segmentasi (segmentattion) mencakup beberapa analisis sebagai berikut, segmen pasar (market segment) mana yang menjadi target pasar (market target)? Apa yang pelanggan inginkan dari jenis pelayanan yang dijual? Bagaimana cara terbaik untuk menyusun unsur-unsur pemasaran dalam memenuhi berbagai keinginan dan kebutuhan mereka? Di mana pelayanan tersebut dipromosikan? Dan kapan pelayanan itu dipromosikan?

Pembagian segmen pasar:
1. Segmentasi pasar konsumen
Yaitu membentuk segmen pasar dengan menggunakan ciri-ciri konsumen (consumer characteristic), kemudian perusahaan akan menelaah apakah segmen-segmen konsumen ini menunjukkan kebutuhan atau tanggapan produk yang berbeda.

2. Segmentasi pasar bisnis
Yaitu membentuk segmen pasar dengan memperhatikan tanggapankonsumen(consumer responses) terhadap manfaat yang dicari, waktu penggunaan, daan merek.

3. Segmentasi pasar yang efektif (Fandy Ciptono, 2001)

* Dapat diukur (measurable), ukuran, daya beli, profil segmen;
* Besar segmen (subtantial): cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani;
* Dapat dijangkau (accessible): dapat dijangkau dan dilayani secara efektif;
* Dapat dibedakan (differentiable): secara konseptual dapat dipisahkan dan memberi tanggapan yang berbeda terhadap elemen dan program bauran;
* Dapat diambil tindakan (actionable): program yang efektif dapat dirumuskan untuk menarik dan melayani segmen tersebut.

Evaluasi terhadap segmen pasar adalah adanya pertumbuhan segmen, daya tarik struktur segmen secara keseluruhan dan SDM, serta tujuan dan sumber daya perusahaan apakah perusahaan berinvestasi dalam segmen tersebut atau tidak

Penentuan Target Pasar
Konsentrasi segmen tunggal
Perusahaan memilih berkonsentrasi pada segmen tertentu. Hal itu dilakukan karena dana yang terbatas, segmen tersebut tidak memiliki pesaing, dan merupakan segmen yang paling tepat sebagai landasan untuk ekspansi ke segmen lainnya.

Spesialisasi selektif
Perusahaan memilih sejumlah segmen pasar yang menarik dan sesuai dengan tujuan serta sumber daya yangdimiliki.

Spesialisasi pasar
Perusahaan memusatkan diri pada upaya melayani berbagai kebutuhan dari suatu kelompok pelanggan tertentu.

Spesialisasi produk
Perusahaan memusatkan diri pada pembuatan produk tertentu yang akan dijual kepada berbagai segmen pasar.

Pelayanan penuh (full market coverage)
Perusahaan berusaha melayani semua kelompok pelanggan dengan semua produk yang mungkin dibutuhkan. Hanya perusahaan besar yang mampu menerapkan strategi ini, karena dibutuhkan sumber daya yang sangat besar.
Pengertian Positioning
Positioning berhubungan dengan upaya identifikasi, pengembangan, dan komunikasi keunggulan yang bersifat khas serta unik. Dengan demikian, produk dan jasa perusahaan dipersepsikan lebih superior dan khusus (distinctive) dibandingkan dengan produk dan jasa pesaing dalam persepsi konsumen.

Fokus utama positioning adalah persepsi pelanggan terhadap produk yang dihasilkan dan bukan hanya sekedar produk fisik. Keberhasilan positioning sangat ditentukan oleh kemampuan sebuah perusahaan untuk mendeferensiasikan atau memberikan nilai superior kepada pelanggan. Nilai superior sendiri dibentuk dari beberapa komponen.

Sedangkan kunci utama keberhasilan positioning terletak pada persepsi yang diciptakan dari: persepsi perusahaan terhadap dirinya sendiri, persepsi perusahaan terhadap pesaing, persepsi perusahaan terhadap pelanggan, persepsi pesaing terhadap dirinya sendiri, persepsi pesaing terhadap perusahaan, persepsi pesaing terhadap pelanggan, persepsi pelanggan terhadap dirinya sendiri, persepsi pelanggan terhadap perusahaan, dan persepsi pelanggan terhadap pesaing.

Pengertian Deferensiasi
Deferensiasi yang kompetitif adalah tindakan merancang satu perbedaan yang berarti untuk membedakan penawaran perusahaan dari lawan/pesaing. Deferensiasi bisa berdasarkan “produk” yang ditawarkan dengan berbagai keistimewaan, penambahan pelayanan, peningkatan kualitas, kemudahan pelanggan, dll. Deferensiasi “personil” dengan cara mempekerjakan atau melatih orang-orang yang lebih baik dari pesaing mereka. Sedangkan deferensiasi “saluran” yaitu perusahaan mencapai deferensiasi dengan cara membentuk saluran distribusi, terutama jangkauan, keahlian, dan kinerja saluran tersebut. Diferensiasi “citra” adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan atau produk.

Manfaat dan Kelemahan Segmentasi
Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991).

Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.
Gitosudarmo (2000) menambahkan manfaat segmentasi pasar ini, sebagai berikut:
1. Dapat membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
2. Dapat digunakan untuk mengetahui sifat masing-masing segmen.
3. Dapat digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
4. Dapat digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar sasaran.
Sekalipun tindakan segmentasi memiliki sederetan keuntungan dan manfaat, namun juga mengandung sejumlah resiko yang sekaligus merupakan kelemahan-kelemahan dari tindakan segmentasi itu sendiri, antara lain:
1. Biaya produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih pendek.
2. Biaya penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan macam segmen pasar yang ditetapkan.
3. Biaya promosi akan menjadi lebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan diskon.
4. Kemungkinan akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Segmentasi

Pengusaha yang melakukan segmentasi pasar akan berusaha mengelompokkan konsumen kedalam beberapa segmen yang secara relatif memiliki sifat-sifat homogen dan kemudian memperlakukan masing-masing segmen dengan cara atau pelayanan yang berbeda.
Seberapa jauh pengelompokkan itu harus dilakukan, nampaknya banyak faktor yang terlebih dahulu perlu dicermati. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Variabel-Variabel Segmentasi
Sebagaimana diketahui bahwa konsumen memiliki berbagai dimensi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar. Penggunaan dasar segmentasi yang tepat dan berdaya guna akan lebih dapat menjamin keberhasilan suatu rencana strategis pemasaran. Salah satu dimensi yang dipandang memiliki peranan utama dalam menentukan segmentasi pasar adalah variabel-variabel yang terkandung dalam segmentasi itu sendiri, dan oleh sebab ituperlu dipelajari.

Dalam hubungan ini Kotler (1995) mengklasifikasikan jenis-jenis variabel segmentasi sebagai berikut:
1.Segmentasi Geografi
Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan.
2. Segmentasi Demografi
Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin/ belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan
misalnya: Jawa, Madura, Bali, Manado, Cina dan sebagainya.
3. Segmentasi Psikografi
Pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:
a. Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah.
b. Gaya hidup misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya.
c. Kepribadian, misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk.
4. Segmentasi Tingkah Laku

Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.
Segmentasi perilaku dapat diukur menggunakan indikator sebagai berikut:
1. Manfaat yang dicari
Salah satu bentuk segmentasi yang ampuh adalah mengelompokkan pembeli menurut manfaat berbeda yang mereka cari dari produk. Segmentasi manfaat menuntut ditemukannya manfaat utama yang dicari orang dalam kelas produk, jenis orang yang mencari setiap manfaat dan merek utama yang mempunyai setiap manfaat. Perusahaan dapat menggunakan segmentasi manfaat untuk memperjelas segmen manfaat yang mereka inginkan, karakteristiknya serta merek utama yang bersaing. Mereka juga dapat mencari manfaat baru dan meluncurkan merek yang memberikan manfaat tersebut.
2. Status Pengguna
Pasar dapat disegmentasikan menjadi kelompok bukan pengguna, mantan pengguna, pengguna potensial, pengguna pertama kali dan pengguna regular dari suatu produk. Pengguna potensial dan pengguna regular mungkin memerlukan imbauan pemasaran yang berbeda.
3. Tingkat Pemakaian
Pasar dapat juga disegmentasikan menjadi kelompok pengguna ringan, menengah dan berat. Jumlah pengguna berat sering kali hanya persentase kecil dari seluruh pasar, tetapi menghasilkan persentase yang tinggi dari total pembelian. Pengguna produk dibagi menjadi dua bagian sama banyak, sebagian pengguna ringan dan sebagian lagi pengguna berat menurut tingkat pembelian dari produk spesifik.
4. Status Loyalitas
Sebuah pasar dapat juga disegmentasikan berdasarkan loyalitas konsumen. Konsumen dapat loyal terhadap merek, toko dan perusahaan. Pembeli dapat dibagi menjadi beberapa kelompok menurut tingkat loyalitas mereka. Beberapa konsumen benar-benar loyal, mereka selalu membeli satu macam merek. Kelompok lain agak loyal,mereka loyal pada dua merek atau lebih dari satu produk atau menyukai satu merek tetapi kadang-kadang membeli merek lain. Pembeli lain tidak menunjukkan loyalitas pada merek apapun. Mereka mungkin ingin sesuatu yang baru setiap kali atau mereka membeli apapun yang diobral.
Segmentasi pasar merupakan langkah pertama dalam strategi pemasaran tiga tahap. Strategi pemasaran tiga tahap yaitu:
1. Membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok yang homogen.
2. Memilih satu segmen atau lebih yang dijadikan target. Pemasar harus mengambil keputusan atas dasar bauran pemasaran yang khusus yaitu produk, harga, saluran, dan/atau daya tarik promosi khusus untuk setiap segmen yang berbeda.
3. Menentukan product positioning (posisi produk) sehingga dirasakan oleh para konsumen di setiap segmen yang dibidik sebagai produk yang memberikan kepuasan lebih baik daripada berbagai penawaran bersaing lainnya.

Segmentasi pasar banyak digunakan oleh para pelaku bisnis, diantaranya:
• Para pemasar, karena strategi segmentasi pasar menguntungkan kedua belah pihak di pasar, para pemasar barabg-barang konsumen menjadi bergairah untuk melaksanakannya.
• Para pengecer, contohnya The Gap membidik berbagai segmen umur, pendapatan, dan gaya hidup di berbagai toko eceran yang berbeda.
• Hotel-hotel, membagi pasar mereka dan menargetkan jaringan hotel yang berbeda ke segmen pasar yang berbeda.
• Perusahaan manufaktur industry, membagi pasar-pasar mereka, seperti yang dilakukan organisasi nirlaba dan media.
• Badan-badan amal, seperti Palang Merah memfokuskan usaha-usaha pengumpulan dana pada “para penyumbang besar”.
• Beberapa Pusat Seni Drama, Musik, dan Seni Tari, membagi para pelanggan atas dasar pencarian manfaat dan telah berhasil meningkatkan pengunjung melalui daya tarik promosi khusus.
Bagaimana segmentasi pasar beroperasi?
Studi segmentasi pasar direncanakan untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan berbagai kelompok spesifik, sehingga barang dan jasa khusus dapat dikembangkan dan ditingkatkan untuk memuaskan kebutuhan setiap kelompok.
Studi segmentasi juga digunakan untuk menuntun perancangan ulang atau pengaturan ulang posisi produk tertentu atau penambahan segmen baru. Riset segmentasi digunakan oleh para pemasar , berbagai stasiun TV dan radio sampai surat kabar dan majalah untuk:
1. Menutup kesenjangan produk,
2. Mengenali media yang paling cocok untuk menempatkan iklan,
3. Menentukan karakteristik pemirsa dan pendengar serta mengumumkan temuan-temuan untuk menarik para pemasang iklan yang mencari pendengar yang serupa.
Pendapatan.
Segmentasi menurut pendapatan telah lama digunakan oleh pemasar produk dan jasa mobil, kapal, kosmetik, dan perjalanan. Banyak perusahaan menetapkan konsumen kaya sebagai sasaran mereka untuk barang – barang mewah dan jasa yang konveniens. Toko – took seperti Neiman-Marcus menyediakan segalanya mulai dari perhiasan mewah, pakaian – pakaian mahal, danpakaian dari bulu sampai dengan mentega kacang berharga $4 dan coklat berharga $20 per pon.
Tetapi tidak semua perusahaan menggunakan orang orang kaya sebagai sasaran segmentasi pendapatan mereka. Hampir 50 persen keluarga A.S. mempunyai pendapatan $25,000 atau kurang. Meskipun daya belanja mereka rendah, 40 juta keluarga dengan pendapatan rendah Negara ini merupakan pasar yang menarik bagi banyak perusahaan. Banyak perusahaan, seperti toko Family Dollar, telah menetapkan konsumen pendapatan rendah sebagai sasarannya dan mereka mendapatkan laba.

Segentasi Demografik Variabel Banyak.
Kebanyakan perusahaan mensegmentasikan suatu pasar dengan menggunakan dua atau lebih variable demografik.Untuk ilustrasi, misalkan pasar tersebut adalah pasar untuk sabun deodoran. Merek – merek sabun deodoran yang penjualannya paling tinggi digunakan oleh banyak jenis konsumen tetapi tiga variable demografik jenis kelamin, usia, daerah geografik adalah paling bermanfaat untuk membedakan para pengguna suatu merek dari para pengguna merek lainnya.

Segmentasi Psikografik.
Dalam segmentasi psikografik, pembeli dibagi menjadi beberapa kelompok menurut kelas sosial, gaya hidup, atau karakterisktik kepribadian. Orang dalam kelompok demografik yang sama bias saja mempunyai profil demografi berbeda.
Kelas sosial.Kelas social mempunyai pengaruh yang kuat terhadap preferensi seseorang dalam memilih mobil, pakaian, perabot rumah, aktivitas santai, kebiasaan baca, pengecer, dan sebagainya. Banyak perusahaan merancang produk dan atau jasa untuk kelas social tertentu, membuat ciri – cirri sedemikian rupa sehingga menarik bagi kelas sosial.
Gaya Hidup.
Minat orang akan berbagai barang – barang yang mereka pakai mengekspresikan gaya hidup mereka. Pemasar dari berbagai barang dan merek semakin meningkat dalam melakukan segmentasi pasarmereka berdasarkan gaya hidup konsumen. General Foods menggunakan analisis gaya hidup untuk menempatkan kembali posisi kopi tanpa kafein, sanka, di pasar dengan sukses.
Kepribadian.
Pemasar juga telah menggunakan variable kepribadian untuk mensegmentasi pasarnya. Mereka memberikan kepribadian kepada produk mereka sesuai dengan kepribadian konsumen. Strategi segmentasi pasar yang berhasil berdasarkan asuransi, dan minuman.

Segmentasi Perilaku
Dalam segmentasi perilaku, pembeli dibagi menjadi kelompok – kelompok berdasarkan pengetahuan, sikap, kegunaan, tanggapan mereka tehadap suatu produk. Banyak pemasar percaya bahwa variable perilaku adalah titik tolak terbaik untuk membentuk segmen – segmen pasar.
Kesempatan Pembeli dapat dikelompokkan menurut kesempatan ketika mereka mendapat ide, melakukan pembelian, atau menggunakan suatu produk. Segmentasi kesempatan dapat membantu perusahaan membangun kegunaan produk.

Manfaat yang dicari.Suatu bentuk segmentasi yang kuat adalah mengelompokkan pembeli menurut manfaat yang mereka cari dari suatu produk. Segmentasi manfaat memerlukan pencarian manfaat utama yang dicari orang dalam kelas produk yang bersangkutan, karakteristik orang yang mencari tiap manfaat, dan merek – merek terpenting yang memberikan masing – masing manfaat.

DAFTAR PUSTAKA
Dasar – dasar Pemasaran / Philip Kotler, Gary Armstrong ; alih bahasa, Wihelmus W. Bakowatun; editor, Heru Sutojo, –Ed. 6. – Jakarta :Intermedia, 1995.
http://pengetahuantentangsegmentasipasar.blogspot.com/2012/11/segmentasi-pasar.html

Oleh hendikam