| 1. Karakteristik Konsumen
Karakteristik konsumen dapat dijadikan dasar dalam membuat segmentasi konsumen. Pada penelitian ini responden dikaji berdasarkan jenis kelamin, usia, status pernikahan, pendidikan terakhir, klasifikasi pekerjaan, status pekerjaan, klasifikasi profesi, rata-rata pendapatan per bulan, rata-rata pengeluaran per bulan dan hobi. Data karateristik responden yang diperoleh akan dinyatakan sebagai input dalam aspek persepsi konsumen dan proses penentuan segmentasi pasar.
a. Jenis Kelamin
Karakteristik konsumen Beras Analog berdasarkan jenis kelamin terdiri dari konsumen laki-laki 21,9% dan konsumen perempuan 78,1%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa konsumen Beras Analog didominasi oleh konsumen perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik konsumen perempuan yang cenderung lebih konsumtif dalam melakukan pembelian terhadap produk baru, khususnya produk yang digunakan sebagai bahan pangan.
b. Usia
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa mayoritas konsumen Beras Analog didominasi oleh usia 31-40 tahun sebesar 35,6%, kemudian berturut – turut responden yang berusia 21-30 tahun sebanyak 27,4%, usia 41-50 tahun sebanyak 20,5%, usia 51-60 tahun sebesar 6,8%, usia kurang dari 20 tahun sebanyak 5,5% dan usia lebih dari 60 tahun sebanyak 4,1 %.
c. Status Pernikahan
Dilihat dari status pernikahannya pada hasil pengolahan data responden, dapat diketahui bahwa sebagian besar konsumen Beras Analog dengan status menikah 61,6% dan belum menikah 38,4%. Hal ini menyatakan bahwa mayoritas konsumen Beras Analog telah memiliki keluarga.
d. Tingkat Pendidikan
Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani, konsumen Beras Analog memiliki latar belakang pendidikan S1 42,5%, diikuti pendidikan S2 20,5%, Diploma 17,8%, SMU/SMK 15,1% dan S3 4,1%. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa konsumen Beras Analog didominasi oleh konsumen berpendidikan S1.
e. Klasifikasi Pekerjaan
Dilihat berdasarkan klasifikasi pekerjaan, responden paling banyak berstatus sebagai employee (pegawai) 42,5%. Kemudian diikuti dengan klasifikasi pekerjaan terbanyak kedua yaitu unemployee (tidak bekerja) 28,8%, business owner (pemilik usaha) 16,4%, self employee (pekerja lepas) 9,6%, dan investor (penanam modal) 2,7%.
f. Status Pekerjaan
Berdasarkan hasil pengolahan data responden diperoleh data bahwa konsumen Beras Analog yang memiliki status pekerjaan sebagai pegawai swasta 24,7%. Kemudian diikuti dengan status pekerjaan PNS 23,3%, ibu rumah tangga 21,9%, wiraswasta 17,8% dan mahasiswa/pelajar 12,3%.
g. Profesi
Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa mayoritas konsumen Beras Analog berprofesi sebagai Ibu rumah tangga sebanyak 19,2%. Profesi dengan %tase terendah adalah politikus 1,4%.
h. Pendapatan Per Bulan
Berdasarkan hasil pengolahan data kuesioner penelitian diketahui bahwa responden Beras Analog mayoritas memiliki pendapatan per bulan sebesar Rp 4.500.001–Rp 6.000.000 sebanyak 30,1%. Hal ini dikarenakan harga Beras Analog yang masih relatif mahal dibandingkan beras biasa (konvensional) pada umumnya, menyebabkan mayoritas konsumennya adalah yang berpendapatan di atas rata-rata.
i. Pengeluaran Per Bulan
Besarnya pengeluaran per bulan sebagian besar konsumen Beras Analog adalah Rp 3.000.001–Rp 4.500.000 dengan persentase 28,8%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas konsumen tidak terlalu mempertimbangkan harga sebagai faktor utama untuk membeli produk Beras Analog.
j. Hobi
Berdasarkan klasifikasi hobi, responden Beras Analog memiliki hobi jalan-jalan dengan persentase terbesar 23,3%. Disusul dengan hobi membaca 21,9%, belanja 19,2%, wisata kuliner 17,8%, browsing 9,6% dan lainnya yang terdiri dari mendengarkan musik, menonton film dan berenang 8,2%.
2. Persepsi Konsumen
a. Kesan terhadap Beras Analog
Perbedaan Beras Analog dengan beras biasa (konvensional) menimbulkan penilaian atau kesan yang berbeda-beda oleh masing-masing responden. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa 35,6% responden memberikan kesan suka, kemudian 30,1% responden memberikan kesan cukup, 19,2% responden memberikan kesan kurang suka, 12,3% memberikan kesan sangat suka, dan 2,7% responden memberikan kesan tidak suka terhadap Beras Analog. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa konsumen yang menyukai Beras Analog masih dibawah 50% yaitu sebesar 47,9% (kesan sangat suka dan suka). Hal ini menandakan bahwa belum terdapat penilaian positif terhadap kesan Beras Analog.
b. Penilaian terhadap Rasa, Warna, Aroma, Teksur dan Bentuk Beras Analog
Penilaian terhadap rasa, aroma, tekstur dan bentuk memiliki persentase terbesar terhadap penilaian suka dengan masing-masing persentase 43,8% untuk rasa, 32,9% untuk aroma, 45,2% untuk tekstur dan 49,3% untuk bentuk. Sedangkan persentase penilaian terbesar untuk warna adalah 31,5%. Hal ini dikarenakan warna pada Beras Analog berbeda dengan warna beras biasa pada umumnya yaitu kuning kecoklat-coklatan yang berasal dari warna alami jagung.
c. Tipe Konsumsi Beras Analog
Menurut 57,5% responden Beras Analog menyatakan produk Beras Analog cocok untuk dikonsumsi sebagai makanan selingan (kuliner), sementara 42,5% berpendapat produk Beras Analog cocok untuk dikonsumsi sebagai makanan pokok. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa keberadaan Beras Analog untuk saat ini belum mampu disetarakan dengan beras biasa (konvensional) yang dijadikan makanan pokok untuk mayoritas masyarakat Indonesia.
d. Bahan Kemasan Beras Analog
Dalam memilih kemasan Beras Analog, bahan kemasan yang paling banyak disukai oleh konsumen akhir untuk produk Beras Analog adalah bahan kemasan jenis Standing Pouch (Kemasan plastik yang dapat berdiri) yaitu 67,1%. Kemasan Standing pouch banyak dipilih oleh konsumen dikarenakan Standing Pouch dianggap ekslusif atau jarang ditemui pada kemasan beras pada umumnya, sehingga memiliki daya jual yang tinggi.
e. Ukuran Kemasan Beras Analog
Ukuran kemasan yang banyak disukai responden untuk produk Beras Analog adalah ukuran 800 gram sebesar 39,7%, disusul dengan ukuran 1 kg sebesar 34,2%, 12,3% untuk ukuran 2 kg, 9,6% untuk ukuran 0,5 kg dan 5 kg sebesar 4,1%. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa ukuran kemasan 800 gram dianggap sesuai untuk sebuah produk yang relatif baru.
f. Keterangan atau Informasi pada Kemasan Beras Analog
Pada kemasan yang sudah beredar di pasaran, keterangan atau informasi yang tertera pada kemasan Beras Analog yaitu komposisi bahan, nilai gizi, kode produksi, tanggal kadaluarsa, aturan penyajian, logo produsen, nama dan alamat konsumen serta merek dagang produk. Sedangkan kode seri SNI dan logo kehalalan produk belum dicantumkan pada kemasan yang beredar saat ini. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa 15,1% responden menyatakan pencantuman nilai gizi pada kemasan Beras Analog dianggap paling penting yang harus tertera pada kemasan.
g. Lokasi Pemasaran Beras Analog
Sebanyak 41,4% responden menyatakan lokasi yang tepat untuk memasarkan Beras Analog adalah pada pasar modern. Sebagian besar konsumen memilih pasar modern dikarenakan pasar modern mengalami pertumbuhan pesat setiap tahunnya dan jika Beras Analog dapat dipasarkan pada pasar modern, Beras Analog dapat bersaing dengan berbagai macam tipe beras yang sudah beredar di pasaran.
h. Bentuk Promosi Pemasaran Beras Analog
Bentuk promosi yang tepat yang diharapkan oleh responden untuk Beras Analog adalah melalui iklan televisi dengan persentase terbesar yaitu 21,7%. Hal ini dikarenakan televisi merupakan bentuk media massa paling efektif karena televisi dapat menjangkau semua kalangan masyarakat.
i. Harga Beras Analog
Persentase terbesar untuk harga Beras Analog per pack adalah Rp 23.000 ukuran 800 gram sebesar 37%. Persentase terkecil adalah Rp 50.000 ukuran 2 kg sebesar 11%.
j. Minat Mengkonsumsi Kembali
Setelah memberikan kesan dan penilaian terhadap Beras Analog, responden menyatakan pendapatnya tentang minat mengkonsumsi kembali Beras Analog. Hal ini dikarenakan mayoritas responden baru mengkonsumsi produk Beras Analog sebanyak satu kali. Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa 79,5% responden menyatakan keinginannya untuk mengkonsumsi kembali Beras Analog, sedangkan 20,5% responden menyatakan tidak.
3. Tabulasi Silang
Nilai crosstabulation yang korelasinya berada kurang dari 0.1 maka dapat dinyatakan adanya korelasi atau hubungan pada variabel tersebut.
a. Hubungan antara Usia dengan Kesan
Responden yang mempunyai kesan sangat suka terhadap Beras Analog lebih banyak berasal dari responden dengan kalangan usia 41-50 tahun yaitu 6.8%. Konsumen pada usia ini biasanya akan lebih selektif dalam pemilihan konsumsi pangan yang lebih sehat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk konsumsi keluarganya. Pada output hasil uji Chi-Square, nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,095 yang lebih kecil dari 0.10 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kesan.
b. Hubungan antara Status Pernikahan dengan Kesan
Mayoritas responden yang mempunyai kesan sangat suka dan suka didominasi oleh responden yang sudah menikah yaitu 11% dan 24,7%. Responden yang telah memiliki keluarga lebih selektif dalam pemilihan pangan pokok karena bertanggungjawab untuk memperhatikan konsumsi keluarganya sehari-hari. Sedangkan responden yang belum berkeluarga cenderung lebih fleksibel dalam pemilihan konsumsinya. Pada output hasil uji Chi-Square, nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,090 yang lebih kecil dari 0,10. Sehingga terdapat hubungan antara karakteristik status pernikahan dengan kesan terhadap Beras Analog.
c. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kesan
Persentase terbesar untuk kesan suka dimiliki oleh pendidikan tingkat S1 dengan persentase 17,8%, sedangkan kesan tidak suka dimiliki oleh pendidikan SMU/SMK dengan persentase 2,7% Hasil output uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kesan karena Nilai Asymp.Sig.(2-sided) pada output bernilai 0,085 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan (0,085 < 0,10).
d. Hubungan antara Pendapatan dengan Kesan
Berdasarkan hasil tabulasi silang, persentase terbesar responden terhadap kesan sangat suka dan suka didominasi oleh responden yang memiliki rata-rata pendapatan antara Rp 4.500.001–Rp 6.000.000. Sedangkan kesan tidak suka dimiliki oleh responden yang memiliki rata-rata pendapatan 2,7%. Nilai Asymp.Sig pada output uji Chi-Square menunjukkan angka 0,025 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin Besar pendapatan semakin besar persentase yang menyukai Beras Analog.
e. Hubungan antara Pengeluaran dengan Kesan
Berdasarkan hasil tabulasi silang, persentase terbesar responden terhadap kesan sangat suka dan suka didominasi oleh responden yang memiliki rata-rata pengeluaran Rp 3.000.001–Rp 4.500.000. Sedangkan kesan tidak suka dimiliki oleh responden yang memiliki rata-rata pengeluaran Rp 1.500.001 –Rp 3.000.000 yaitu 2,7% Nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,090 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik pengeluaran berhubungan signfikan dengan kesan terhadap Beras Analog.
f. Hubungan antara Kesan dengan Minat Mengkonsumsi Kembali
Berdasarkan hasil tabulasi silang, kesan responden terhadap Beras Analog sangat menentukan minat mengkonsumsi kembali, hal ini dapat dilihat pada Tabel 7 yang menyatakan bahwa sebesar 12,3% responden menyatakan sangat suka, 35,6% menyatakan suka, 23,3% menyatakan cukup suka, 8,2% menyatakan suka, dengan sebanyak 79,5% menyatakan minat untuk mengkonsumsi kembali. Nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,000 yang lebih kecil dari taraf nyata yang menyatakan bahwa kesan terhadap Beras Analog berhubungan signfikan dengan minat mengkonsumsi kembali.
g. Hubungan antara Kesan dengan Tipe Konsumsi
Berdasarkan hasil tabulasi silang, kesan responden terhadap Beras Analog juga menentukan tipe konsumsi apa yang cocok untuk Beras Analog. Sebanyak 28,7% konsumen yang menyukai Beras Analog (kesan sangat suka dan suka) menyatakan bahwa Beras Analog cocok untuk dikonsumsi sebagai makanan pokok. Sedangkan mayoritas konsumen yang menyatakan kesan cukup dan kurang suka dengan masing-masing 19,2% dan 17,8% menyatakan Beras Analog cocok untuk dikonsumsi sebagai makanan selingan (kuliner). Nilai Asymp.Sig.(2-sided) menunjukkan angka 0,016 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kesan terhadap Beras Analog berhubungan signfikan dengan tipe konsumsi Beras Analog.
4. Analisis Cluster
Penelitian ini menggunakan analisis cluster untuk menganalisis data yang diperoleh dari kuesioner yang disebarkan kepada 73 responden. Hasil dari analisis ini akan digunakan untuk menentukan segmentasi pasar Beras Analog yang merupakan bagian dari perencanaan strategi pemasaran. Segmentasi didasarkan atas karakteristik demografi konsumen yang signifikan berdasarkan hasil uji tabulasi silang yaitu usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan dan pengeluaran serta kesan terhadap Beras Analog. Prosedur analisis cluster yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode hierarki. Analisis Hierarki Cluster digunakan untuk sampel < 100. Variabel kuesioner penelitian dalam karakteristik demografi dan kesan terhadap Beras Analog merupakan kombinasi variabel nominal, ordinal, interval dan rasio. Untuk melakukan analisis cluster, variabel-variabel tersebut perlu dilakukan standarisasi data terlebih dahulu. Setelah dilakukan standarisasi data, tahap selanjutnya adalah mengelompokkan variabel-variabel tersebut dalam hierarki cluster. Untuk melakukan interpretasi terhadap cluster yang terbentuk dapat dilihat pada output dendogram.
Dua tahap terakhir dari dendogram memiliki jarak paling besar. Untuk mendapatkan cluster yang memiliki kemiripan paling dekat, maka jarak yang dipilih adalah yang memiliki jarak paling kecil. Dari Gambar tersebut maka dapat dipilih 4 cluster yang berada pada rentang jarak 3-5. Dari keempat cluster tersebut didapatkan masing-masing kelompok yang memiliki kemiripan berdasarkan variabel usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan serta kesan terhadap Beras Analog. Berikut adalah hasil analisis hierarki cluster yang terbagi menjadi 4 cluster.
5. Analisis Biplot
Berdasarkan hasil analisis biplot, atribut dapat dipetakan menjadi kwadran yang menggambarkan keragaan kategori dan atributnya. Pada peubah SP (sangat penting), garis vector terlihat cukup panjang karena di sekitar garis tersebut terdapat cukup banyak atribut yang diwakilkan, yaitu atribut Manfaat Kesehatan, Keamanan dikonsumsi dan Kandungan Nutrisi. Sedangkan untuk atribut Promosi dan Daya Tahan produk terdapat pada peubah P (penting).
Selain itu melalui analisis Biplot dapat diketahui pula hubungan (korelasi) antar peubah. Hubungan (korelasi) antar peubah dijelaskan dengan besarnya sudut yang terbentuk dari dua buah garis atribut. Semakin lancip sudut (< 90°) yang terbentuk dari dua buah garis atribut, maka nilai korelasinya semakin besar (korelasi positif), sedangkan semakin tumpul sudutnya (> 90°) yang terbentuk dari dua buah garis atribut, maka nilai korelasinya semakin kecil (negatif). Dua buah garis atribut yang membentuk sudut siku-siku (90°) maka tidak ada korelasi antara kedua atribut tersebut.
Atribut nutrisi berkorelasi positif dengan atribut manfaat dan keamanan di konsumsi. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa semakin kaya nutrisi yang terkandung dalam suatu produk, semakin banyak manfaat kesehatan yang dapat diperoleh sehingga produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Informasi lain yang didapat pada analisis Biplot ini adalah keragaman yang diterangkan oleh sumbu x sebesar 72% dan sumbu y sebesar 15,6% sehingga secara keseluruhan keragaman yang diterangkan oleh kedua sumbu ini sebesar 87,6%. Keragaman peubah (atribut) digambarkan dari panjang vector masing-masing atribut. Semakin panjang vektor suatu atribut, maka keragaman atribut semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Pada Gambar 5 terlihat bahwa atribut harga, warna dan tekstur memiliki vektor yang lebih panjang dibandingkan dengan vector lainnya. Nilai keragaman ini menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap dua atribut tersebut lebih beragam dibandingkan atribut-atribut lainnya.
6. Strategi Pemasaran
Kotler dan Armstrong (2008) menjelaskan bahwa seluruh strategi pemasaran dibangun berdasarkan STP, Yaitu Segmentation (segmentasi), Targetting (penentuan target pasar), dan Positioning (penentuan posisi):
a. Segmentasi Pasar Beras Analog
Menurut Setiadi (2008), segmentasi pasar adalah proses menempatkan konsumen dalam subkelompok di pasar produk, sehingga para pembeli memiliki tanggapan yang hampir sama dengan strategi pemasaran dalam penentuan posisi perusahaan. Berdasarkan analisis hierarki cluster, maka dapat dilakukan analisis segmentasi pasar yang diperoleh berdasarkan dua cluster dimana cluster 1 sebesar 32%, cluster 2 sebesar 25%, cluster 3 sebesar 34% dan cluster 4 sebesar 9%. Dengan karakteristik untuk masing-masing cluster adalah sebagai berikut :
− Cluster 1
Merupakan responden berusia 21-30 tahun, belum menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 1.500.000-Rp 3.000.000 serta memiliki kesan cukup terhadap Beras Analog.
− Cluster 2
Merupakan responden berusia 31-40 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu diploma, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 3.000.001-Rp 4.500.000 serta memliki kesan cukup terhadap Beras Analog.
− Cluster 3
Merupakan responden berusia 31-40 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 4.500.001-Rp 6.000.000 serta memliki kesan suka terhadap Beras Analog.
− Cluster 4
Merupakan responden berusia 41-50 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S2, memiliki rata-rata pendapatan dan per bulan Rp 4.500.001-Rp 6.000.000 dan rata-rata pengeluaran per bulan Rp 3.000.001-Rp 4.500.000 serta memliki kesan suka terhadap Beras Analog.
b. Penetapan Pasar Sasaran Beras Analog
Menurut Umar (2000), terdapat tiga faktor untuk menetapkan pasar sasaran dalam rangka mengevaluasi dan memutuskan berapa segmen pasar yang akan dicakup serta segmen mana yang akan dilayani yaitu ukuran dan pertumbuhan segmen, kemenarikan struktural segmen serta sasaran dan sumber daya perusahaan.
Berdasarkan segmen yang telah didapatkan dari analisis hierarki cluster, jika dilihat berdasarkan ukuran segmen, ukuran dengan jumlah konsumen terbesar berada pada cluster 3 dengan jumlah konsumen sebesar 34%. Berdasarkan kemenarikan ukuran segmen, cluster 1 dan cluster 2 belum menarik dari sisi profitabilitasnya. Hal ini dapat dilihat dari variabel kesan dimana cluster 1 dan 2 hanya mempunyai kesan cukup terhadap Beras Analog. Padahal variabel kesan suka sangat mempengaruhi daya tarik segmen yang positif untuk jangka panjang. Oleh karena itu penetapan target sasaran harus mengacu pada konsumen yang menyatakan kesukaannya pada Beras Analog.
F-Technopark IPB selaku pihak produsen Beras Analog harus mempertimbangkan sasaran dan sumber dayanya dalam kaitan dengan segmen pasar. Walau ada segmen yang bagus, akan tetapi dapat ditolak jika tidak prospektif dalam jangka panjang serta harus mempertimbangkan kemampuan dalam menyediakan sumber dayanya. Berdasarkan hasil wawancara, saat ini F-Tehncopark masih minim dalam ketersediaan sumber daya. Jika ingin mencakup lebih dari satu segmen maka diperlukan sumber daya yang besar untuk menjangkaunya. Meskipun cluster 4 mempunyai kesan suka, tapi persentase segmennya hanya 9%, Oleh karena itu, cluster 3 merupakan pilihan tepat untuk di tetapkan sebagai pasar sasaran dengan karateristik responden yaitu berusia 31-40 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 4.500.000-Rp 6.000.000 serta memiliki kesan suka terhadap Beras Analog.
c. Perumusan Positioning Beras Analog
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui penyebaran kuesioner preferensi derajat kepentingan atribut Beras Analog, pihak perusahaan dapat menyusun strategi pemasarannya dengan menonjolkan kepada pasar dimana letak perbedaannya dengan pesaing. Langkah ini diambil karena Beras Analog merupakan produk baru yang belum dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga penting sekali bagi Beras Analog untuk menciptakan strategi pemasaran yang membedakan dirinya dengan produk pesaing.
Rumusan strategi pemasaran yang menonjolkan perbedaan dengan pesaing harus dibuat berdasarkan atribut yang dianggap sangat penting oleh konsumen. Atribut-atribut yang dianggap sangat penting dapat menjadi tolak ukur perumusan positioning Beras Analog. Berdasarkan hasil analisa yang telah didapat, maka pihak perusahaan dapat membuat perumusan positioning sebagai berikut:
“Beras Analog merupakan beras alternatif non padi yang aman dikonsumsi karena mengandung lebih banyak nutrisi dan bermanfaat untuk kesehatan”. Adapun tagline yang dapat diberikan untuk Beras Analog antara lain: (1) “ Beras Analog, Beras Sehat kaya Nutrisi” (2) “Analog rice, My Rice My Healthy”. |